Tampilkan postingan dengan label Belajar Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Menulis. Tampilkan semua postingan

0 Entah Apa Judulnya

6 Juni 2014

Entah apa judulnya, akupun tak pernah tahu. Sebab ini semua tak diketahui sejak kapan berawal dan kapan pula telah berakhir. Sebuah kesalahan yang paling manis. Dosa terindah yang menyeringai masuk ke dalam kehidupanku. Dia, yang sempat mengisi hari-hariku. Dia, yang pernah dan akan selalu menjadi yang paling memahami aku. Sekalipun raga lenyap dari pandangan, jiwaku tetap menyimpan indah cintanya. Selalu, abadi.

Ini adalah sebuah lirik lagu yang pernah diciptanya buatku sebelum ia pergi ke alam realita. Menyedihkan? Ya. Mengharukan? Ya. Membahagiakan? Ya, karena aku sempat mengenalnya dan menggenggam erat tangannya. Sayang, semoga kau tenang di alam sana. Alam realita penuh dengan puja dari mereka. Sehat-sehatlah selalu, aku memelukmu dari sini.

----------------------------
Awal senyum manismu menyambutku,
ada rasa yg tak biasa mghampiri diriku,
hingga kini kau mewarnai hidupku,
selamanya kutetap milikmu.

setiap langkah yg kita lalui brsama,
menuliskan cerita yg tak pernah terduga,
hanya kau & aku yg bisa melewati semua dgn sgenap cinta.

cinta yg t'lah persatukan kita, meleburkan sgenap asa yg tak pernah kita duga bersama,
tetaplah disisiku selamanya,
krn ku hanya ingin dirimu satu sampai Dia memanggilku kembali.
------------------------------

Terimakasih untuk sebuah lagu yang indah. Yang pernah teralun dari bibir mungilmu. Terimakasih.

2 Teriakan Seorang Bisu Rasa

11 April 2014
Dimensi kesekian mendadak menyapa dan mencumbuku tanpa jeda. Apa namanya dan bagaimana identitas kejelasan ruang ini pun tak kutemui maknanya. Sejenak kurebahkan arti di dalam sebuah senyum yang meggoda sukmaku. Senyum itu menggodaku untuk terus terperosok semakin dalam, dalam, dan dalam. Memaksaku untuk terus menikmati setiap desahan asa yang terdengar melalui pita suara yang redam dalam logika. Aku mencari jalan keluar, aku ingin pulang! Pulang? Pulang kemana? Dari mana aku ini sebenarnya berasal? Sebuah dunia tak terjamah, aku ini dari sana. Kekosongan sempat merajai jiwa ini. Ramai tak merasa ada. Sepi tak merasa hilang. Semu, hanya semu yang tampat nyata. Keberanianku mengenal sosok cinta yang berbeda, perlahan membawaku lari. Aku berlari kepada sebuah harapan yang penuh gairah cinta. Ini asa yang tidak biasa. Ini jiwa yang tak lagi sama. Dimensi ini adalah rumah baru tempatku berdiam. Nafasku penuh dengan cinta. Hatiku penuh dengan rasa. Otakku penuh dengan gairah. Semuanya ini akankah musnah? Entah! Aku tak pernah tau kapan ini dimulai. Dan aku pun tak pernah ingin tau kapan ini akan segera berakhir. Yang aku tau hanyalah hari ini Hanya saat ini. Aku bersamamu, menyatu. Sebuah tatap penuh harap adalah sumber tenaga untuk kembali berjalan menapaki dunia yang penuh dusta. Sesungging senyum menggoda itu selalu menjadi oksigen di tengah kesesakan dusta yang penuh paksa. Aku tak ingin lari. Tak lagi ingin pergi. Tak sejejakpun ingin kuasingkan dari zona ini. Hanya kau dan aku, menyatu. Sayang, jikalau kaupun harus pergi nanti, aku takkan ingin mencari lagi. Tak akan menjajaki hati-hati yang lain. Ini tempat peristirahatanku yang terakhir. Kuburku ada dalam jiwamu itu. Surgaku ada dalam kebersamaan kita. Neraka ini kita yang punya. Siapa yang sanggup masuki? Tak akan ada. Mereka pasti mati. Detik ini aku seperti kembali. Apakah kita ini merupakan produk reinkarnasi? Siapa kau, sayangku? Siapa kita? Aku merasa seperti hidup kembali dan mengulang sebuah kisah yang sama. Entah dimana, entah di lapisan dunia yang mana. Aku merasa kita ini tak jauh berbeda. Kau memang aku dan aku memang kau. Siapa empunya kita? Siapa penulis skenario jalan cerita kita. Sayang, yang kutahu hanya kau saat ini. Yang kuharap hanya denganmu hingga nanti. Yang berharga bagiku hanya harapmu dan jiwamu merengkuh setiap sendi-sendiku yang semakin lemah. Sayang, aku ingin tetap tenang. Tanpa harus menjadi bayang-bayang dunia yang tampak seolah tenang. Kita ini tak lebih dari sepasang wayang yang dimainkan oleh seorang dalang. Entah sampai kapan, takkan terbayang. Janji ku bersamamu, janjiku di relung jiwamu. Kita bersembahyang berasama di atas sajadah nya cinta. Bernafas dengan dupa asa. Aku percaya, setianya kita, adalah setianya Tuhan. Hingga sampai pada kesudahan, aku dan kau akan menjadi sebuah kitab sucinya para pemuja cinta yang bisu akan rasa.

5 Bersetubuh dengan Dia, Siluet Luka

23 Februari 2014
------Teruntukmu yang sempat singgah-------

Di seberang jalan aku melihat sebuah siluet luka yang kabur terhalang kabut senja. Aku diam, tunduk, lalu meringkuk. Bukan aku takut, aku hanya masih merasa asing dengan bentukmu yang buram. Aku diam dan pura-pura tak melihat. Kucari arti, tak jua kutemui. Siluet luka di seberang jalan kini tampak semakin dekat. Ternyata kau adalah sebuah pribadi. Manusia! Oh, siluet luka itu kini berubah menjadi sesosok anak manusia yang tampak sangat indah. Ini mahakarya Tuhan! Benarkah kau itu siluet luka yang kulihat di seberang jalan tadi? Indahnya. Kupandangi setiap inci dari sisimu. Ini aneh, tak ada tanda-tanda duka. Namun mengapa engkau tampak sebagai siluet luka? Kau diam di ujung seberang jalan sana. Hei, sadarkah bahwa kau adalah indah? Sadarkah kau bahwa ada harta yang tersimpan dalam jiwamu yang hampa? Oh, hampa? Entahlah. Aku baru saja melihatmu beberapa menit yang lalu. Namun bathinku serasa ikut tercabik saat melihat bayanganmu yang membentuk sebuah siluet dipenuhi luka, buram terhalang kabut senja. Aku melihatnya, luka. Begitu banyak luka yang tertimbun dalam jiwamu yang hampa. Sebentar saja aku memandangimu. Seketika itu aku merasa, aku cinta. Ah! Cinta lagi, cinta lagi. Bosan! Ini bukan cinta yang biasa. Bukan cinta yang harfiah. Ini cinta antar dimensi yang tak lazim keberadaannya. Sangat tidak lazim. Lantas, bagaimana selanjutnya? Kau tersenyum. Senyumanmu mengaburkan pandanganku. Mata duniawiku buta. Intuisiku menggerayangi, aku pasrah. Ilusi pun tercipta. Mata bathin seolah berkata, kau adalah aku. Aku adalah kau, benar begitu? Mungkin saja. Tapi yang kutahu, aku hilang kendali. Nalar ini tertikam oleh rasa yang aku tak tahu ini apa. Hanya pasrah. Nalar kita saling merangsang. Ide-ide kita bersetubuh dalam satu kesatuan harmoni yang indah. Membuahi alam pikir kita, dan aku melahirkan karya kemudian. Sayang, entah harus kusebut apa kau beserta dengan lukamu itu. Entah harus bagaimana aku harus memaknai persetubuhan ini. Bathin kita menyatu namun raga ini bagaikan minyak dan air yang takkan pernah menjadi larutan utuh. Kita berbeda, kita harus terpisah. Sebentar saja kunikmati persetubuhan ini. Selamanya mungkin takkan pernah aku melupakan kau beserta dengan lukamu. Kau adalah mahakarya indah. Jangan lagi kau pernah menjadi sebuah siluet luka. Aku cin... hentikan sajalah. Kita tak sama.

22 Februari 2014 -pupu-

0 Sesama Tuhan Akur...

18 Januari 2014
Dalam sekejap kekaguman itu menusuki setiap sendi dan syarafku. Wow, damainya. Kekuatan magis dan pengaruh spiritual terasa sangat kental di sini. Sejenak kulupakan siapa aku, bagaimana aku, dan darimana aku berasal. Tak peduli apakah aku seorang yang memeluk agama Hindu atau bukan. Aku  tak peduli dengan pengkotakan terhadap agama-agama yang ada. Menurutu doktrin itu salah. Selagi aku tak mengikuti tata ibadahnya, takkan menjadi masalah. Ini bentuk kekagumanku saja.

Langkah pertama memasuki gerbang itu terasa aneh. Ada perasaan lain yang mencoba mengalihkan perhatianku. Betapa indahnya perbedaan ya Tuhan. Decak kagumku tak berhenti. Aku terus berbicara dalam hati sambil memperhatikan setiap ruangan dan segala dekorasi yang sangat memukau. Jujur, aku terpesona.

Bagiku ini adalah hal yang baru, memasuki rumah para dewa. Dewa-dewi berkumpul di sana. Mungkin mereka sedang bercengkrama, atau mungkin sedang berdiskusi tentang segala kerusakan dunia? Ah, entahlah. Yang jelas aku turut merasakan kehangatan mereka saat itu.

Kuperhatikan setiap detil yang ada. Patung-patung yang merupakan manifestasi keberadaan mereka, aku mengagimu keindahannya. Aku menatap ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah, semuanya indah. Sekelilingku penuh dengan aroma magis yang luar biasa. Bau dupa semerbak menusuki penciumanku. Hmm, Baunya lumayan.

Di dalam sana, ada sebuah  patung yang paling besar. Mungkin itu patung dewa yang paling mereka hormati. Tampak sekelompok ibu-ibu yang sedang duduk secara 'lesehan' di lantai tempat mereka memuja para dewa. Mereka terlihat sangat cantik mengenakan sari. Sari yang mereka pakai tampak begitu menawan. Keanggunan terpancar dari gerak-gerik tubuh para ibu itu. Ini menakjubkan!

Menurutku, ini merupakan kekayaan alam. Betapa indahnya saat manusia mampu menghargai setiap karya budaya yang tercipta. Betapa indahnya ketika semua umat manusia yang beragama maupun yang tak beragama saling mendukung dan menghormati satu dengan lainnya. Saat umat manusia yang tak ber-Tuhan dan yang mengaku ber-Tuhan tidak saling menghakimi . Ini adalah harmonisasi yang luar biasa. Kehidupan ini sangat kaya!

Aku rasa surga akan nyata dalam dunia saat kondisi yang kurindukan di atsa dapat terwujud dan tercipta. Ya, Tuhan. Kau sungguh luar biasa. Kau dan sesama Tuhan yang mereka sembah saja terlihat akur, lantas mengapa para pengikutmu tak dapat akur? Mereka sombong Tuhan.

0 AWAS! Itu Tipuan...

13 Januari 2014
Percakapan kami membawaku kepada sebuah kesimpulan yang sangat mengusik bathin. Oke, kami di sini adalah aku dan lelaki itu, sebut saja Er. Arah percakapam kami  mengarah kepada persoalan cinta dan pasangan hidup. Sebenarnya ketidaksengajaan menenggelamkan kami dalam sebuah perdebatan tentang kesetiaan. Hahaha terlalu klise ya.

Er adalah temanku. Sejujurnya aku merasakan segala usahanya bahwa ia sedang ingin mendekatiku lebih dalam. Tapi semua itu ya aku bawa santai saja. Toh belum terbukti. Lagipula aku ini masih belum berhasrat memiliki seorang pacar apalagi pasangan hidup. Belum siap 'ribet' soalnya.

Aku tipe wanita yang percaya bahwa cinta sejati itu ada. Ya, memang ada. Ada di dalam dongeng-dongeng klasik dan wilayah fiktif lainnya. Hahaha. Bukan apatis untuk urusan cinta, tapi ya memang ini lah adanya. Proses waktu dan pengalaman membentuk aku menjadi seorang wanita yang sinis dengan cinta.

Kita insan muda sering sekali salah mengartikan cinta. Pada dasarnya cinta itu anugerah dan simbol keajaiban Tuhan. Tapi, prosesnya ini yang sering di'lebay-lebay'kan. Apalagi sekarang ini, pernikahan yang notabene boleh terjadi karena cinta, tidak lagi dianggap sebagai suatu hal yang sakral.

Sepasang anak muda memadu kasih dalam jalinan ikatan yang sering disebut 'pacaran'. Apa sebenarnya fungsi pacaran? Merusak!  Merusak makna dari cinta itu sendiri. Banyak yang berlindung dibalik kata cinta untuk saling merusak. Trend 'galau' juga semakin menyeruak akibat dari proses cinta yang salah ini. Sungguh menyedihkan.

Bukankah cinta itu sesungguhnya sumber kasih? Sumber kebahagiaan yang membangun pribadi setiap insan untuk menjadi kuat dan tangguh? Bukankah cinta itu merupakan sesuatu yang suci sehingga dijadikan pengikat dalam kehidupan perkawinan manusia? Setidaknya itu adalah pernyataan yang terdefenisi secara spontan olehku pribadi. Tentu ini karena pengalaman.

Menikmati rasa cinta memang lebih nikmat dari sebatang coklat dan secangkir eskrim. Sangat manis. Aku  dulu sempat merasakan itu dan kebanyakan orang juga mengatakan hal yang sama.

 'Jatuh Cinta itu bikin gila!'

'Aku cinta kamu. Kamu sumber bahagiaku'

Serius??? Itukah cinta???

Itu ambisi. Hanya ambisi yang sering dibarengi dengan arogansi untuk 'memiliki'.

Seharusnya cinta itu mampu mengikhlaskan. Cinta itu mendoakan. Cinta itu sabar. Bukannya malah mencuri yang belum menjadi hak kita. Cerdaslah sedikit. Khususnya kalian para wanita! Tubuh kalian bukanlah barang dagangan yang dapat ditawar nego dengan sebuah ungkapan'cinta'. Itu bukan cinta, itu tipuan!
Sejujurnya, niatku tak menikah. Tapi sebagai makhluk yang berTuhan dan percaya dengan takdir hidup yang telah digariskan, aku masih menanti cinta sejatiku. Cinta yang diutus lagsung dari Tuhan. Klise? Hahaha. Ya, lagi-lagi hidup adalah pilihan. Namun akupun tak menutupi rasa ketakutanku untuk mngenal pria dan 'jatuh cinta'. Pacaran, pacaran, pacaran, hanya akan menambah rumitnya hidup. Aku belum siap 'ribet'.
Realita tentang keperjakaan dan keperawanan pun tambah menghantuiku. Dari percakapanku dengan Er, terkuaklah bahwa lelaki yang berparas lugu ini telah sering melakukan kegiatan suami istri dengan pacarnya terdahulu. Istilah kerennya : Making Love. Ah, gila!

Awalnya aku pikir dia ini pria yang polos dari segala hal itu. Karena apa? Dia merupakan pemuda yang aktif dalam rumah ibdah dan tergolong alim. Sedikit-sedikit topik bahasan tentang Tuhan. Dia mengaku kalau sangat mencintai Tuhan. Tapi apa? Semuanya omong kosong! Semua yang kelihatan belum tentu benar. Sama dengan cinta.

Er mengakatakan bahwa ia melakukan itu karena ia sangat mencintai mantannya meskipun pada akhirnya dia harus kehilangan. HAHAHA! Ini adalah lelucon paling 'garing' yang pernah kudengar. Kalau cinta ya seharusnya menjaga. Tapi inilah faktanya, aku seorang yang freedom! Selalu menghargai setiap pilihan yang diambil oleh siapa saja. Menurutku segalanya adalah sumber belajar. Maka itu raut kekecewaanku tak tampak diwajahku saat itu. Aku berusaha menenggelamkannya ke daar lautan terdalam imajinasiku. Biarlah si Er dengan pilihan hidupnya.

Aku tak ertarik untuk menghakimi.
Hanya saja, aku ingin menyadarkan kita. Halo kaum muda...
Hati-hatilah dalam memilih pasangan. Hati-hati! Awas terjebak dengan rayuan maut 'cinta'. Sekali lagi kutekankan, itu tipuan!

Lihat Er, dia sekarang kehilangan mantannya krarena mantannya itu selingkuh. Bayangkan, wanita itu selingkuh! Padahal dia sudah sering mlakukan hubungan suami istri dengan Er. Tapi ia sanggup. Miris bukan?
Wanita tak lagi indah. Wanita tak lagi menjadi simbol keelokan surgawi. Wanita hanya menjadi barang dagangan yang diobral. Jika tak laku dalam 'pasar'nya maka dibuanglah ia ke dalam tempat sampah. Itu 'mindset' yang tolol menurutku. Tetaplah berhati-hati. Masih ada harapan untuk kita menemukan cinta itu. Cinta yang aku percaya hanya akan datang sekali seumur hidup.

0 MALAIKAT KECIL

5 November 2013
Banyak sekali yang ingin aku ceritakan mengenai pengalamanku semasa PPL ini... Banyaaaaaaak sekaliiiiii :')
Tapi nggak tahu mau mulai ini semua dari mana. Semuanya membuat aku 'excited' untuk cerita!!! Nah akibatnya ya jadi nggak beraturan gitu bahasanya. Runtutan waktunya juga nggak teratur. Haduuuuuh... asli kalau mau dimulai untuk cerita, aku semangaaaaaaaaatttt !!! :D

Hem... gini ajadeh... Kali ini aku mau cerita tentang lagu ciptaan 'dadakan' yang aku ciptkan bersama teman seposko ku. Budi Besar namanya...
Awalnya sih dia iseng ngerambas-rambas gitarnya... Dapetlah sebuah rangkaian alunan nada...
Dia dapat kuncinya, tapi nggak tahu mau dikassih lirik apa.

Tujuannya membuat lagu ini adalah nggak lain dan nggak bukan untuk anak-anak didik kami.
Dia coba-coba merangkai kata, tapi masih belum 'masuk' ke dalam rangkaian nadanya.
Aku dengar secara nggak sengaja, nadanya menyentuh... Aku resapi, aku resapi, makin lama kok aku merasa semakin 'hanyut' dalam alunan nada itu.

Kucoba beranikan diri untuk mulai bernyanyi dengan rangkaian kata yang kubuat sendiri secara spontan.
Masuuuuuk!!! :'D
Mengalir... mengaliiiir... mengalirrr...
Secara natural semuanya tercipta...
Kubayangkan semua kisah yang pernh terjadi bersama mereka, anak-anakku...
Airmataku pun mengalir tanpa tertahan.Pipiku basah ;') Terlalu mengharukan...
Kalian tahu, semua ini terlalu singkat! Ahhhh... entahlah, entah bagaimana aku harus menyatakan ini semua dengan rangkaian kata. Kukira semuanya takkan ada yang sanggup mewakilkan semua rasa yang kurasakan.

Ini, ini lirik lagu yang kucoba rangkaikan dan yang kucoba sesuaikan dengan nada-nada indah milik temanku, Si Budi Besar itu.
Silahkan komentari, kritiki, dan berikan saran untuk lagu ini ya...

MALAIKAT KECIL

MASA INDAH TERUKIR KENANGAN
TAWA CANDA HIASI CERITA
AMARAH, EGO DAN AIR MATA
BERSAMA...

SUARA MERDUMU SENTUH HATIKU
LEMBUT PELUK HANGATKAN JIWAKU
TAK KUSANGKA SEMUA KAN BERAKHIR DI SINI

GURU :
MALAIKAT-MALAIKAT KECILKU
KUINGIN TAWAMU ABADI
JALANI SEMUA HARI-HARI
PENUH SEMANGAT DI JIWA

MURID:
BAPAK IBUKU YANG KUCINTA
TULUS KASIH SELALU TERKENANG
T'RIMA KASIH ATAS BUDIMU
YANG AJARKU TUK HIDUP

0 A JOURNEY!

2 Oktober 2013
Hidup ini hanya bagaikan jembatan rapuh yang pasti akan mengantarmu kepada alam ruh yang kekal. Sekali lalai, jembatan itu akan patah dan kau terperosok jatuh kemudian. Jembatanmu dan jembatanku tentu berbeda.  Panjangnya jelas tak sama. Satu dengan yang lain memiliki jembatannya masing-masing. Tak ada yang sama. Arsitek alam lah yang merancangkan demikian.
Berjalanlah pelan. Berjagalah dengan cahayamu. Kau tahu? Dunia ini terlalu gelap. Terlalu gelap! Dunia tak punya sumber cahayanya sendiri. Terangilah ia dengan cahayamu. Terangi ia dengan cahaya yang berasal dari nurani hatimu. Setitikpun, tentu sangat berguna. Jangan sungkan untuk mendermakan cahayamu. Dunia benar sangat membutuhkannya. Tembuslah selimut gulita yang membungkus seluruh fatamorgananya kehidupan.
Hei! coba kau lihat, eh... maksudku raba. Coba rabalah! Tak ada pegangan. Jembatanku dan jembatanmu tak memiliki pegangan. Jembatan kita terasa lempang saja. Bisa-bisa kita terjatuh. Bahaya!
Raba lagi. Jembatan ini tak ada sandaran. Mari. Mari! Cercahkan kakimu. Raba dasarnya, jembatan ini terlalu sempit! Sangat berbahaya bukan?
Jangan khawatirkan itu. Berjalanlah saja, tujuan kita ada di depan sana. Ingat, jembatan ini hanya penghubung dan sarana penghantar saja. Dunia ini adalah penghantar. Dunia ini hanya penghubung. Tujuan yang sebenarnya hanya ada di depan sana. Yang jelas tertutup kabut pekat. Gelap!
Saat kau berusaha terus berjalan ke depan, kuingatkan ya, di tengah perjalanan nanti kau pasti akan bertemu dengan sesuatu yang sangat bercahay dan penuh dengan kemilauan. Tempat itu memiliki kemewahan dan kemilaunya yang pasti kau nanti akan mengakui juga bahwa itu adalah tempat yang sangat menakjubkan. Cahayanya menyilaukan. Tempat itu merupakan magnet raksasa yang kan menarikmu ke dalamnya. Pasti, kau akan ditariknya.
Jangan terkecoh! Kuberitahu lagi ya, itu tipuan!
Cahaya di tempat itu berbeda dengan cahaya kita. Cahaya mereka adalah cahaya api yang membakar. Mereka hanya melakukan kamuflase sekejap untuk menjebakmu. Ingat! Cahayamu dan cahayaku adalah cahaya yang sejuk. Cahay nurani, cahay jiwa, cahaya kalbu yang menenangkan. Bukan cahaya yang membakar seperti milik tempat itu.
Jangan langkahkan kakimu ke dalamnya. Jangan sekali-kali kamu memberankikan diri untuk masuk dan bersatu dengan cahaya itu. Kemilauan itu hanya tipuan! Jangan terkecoh. Sekali saja kau lengah, selamanya kau akan ditawannya. Jiwaku dan jiwamu akan abadi di sana.Sekli masuk, kau akan abadi di sana. Kekal dalam api yang membakar.
Aku paham, di dalam perjalanan hidup ini kadang kau rasa letih. Aku tahu itu. Aku tahu kalau perangkap selalu siaga menjebak. Berhati-hatilah. Kalau kau letih, berdiamlah.
Pejamkan mata, carilah si arsitek alam. Dia ada di pikiranmu. Dia ada di alam intuisimu. Dia di hatimu. Undang dia hadir dan ajaklah dia duduk bersamamu. 
Aku mau mengingatkanmu kembali bahwa si arsitek pernah menyuarakan sabda janji untuk mu, aku, dan mreka. Yakni suatu tempat di ujung perjalanan dari jembatan ini. Kehidupan yang kekal. Tempat yang kekal. Tempat yang tak mengenal airmata dan kesakitan. Tempat yang penuh tawa bahagia, tidak ada kesedihan maupun ratapan.
Saat kau kehilangan cahaya, mintalah si arsitek untuk menambahkannya kembali. Dia pasti akan memberikannya padamu. Keletihanmu akan diusirnya dengan angin kesejukan. Pasti letihmu akan hilang.
Kau dahaga? Kau butuh air? Tenang saja. Dia memiliki air yang hidup. Apa itu air hidup? Itu adalah air yang pasti akan melenyapkan dahaga dan kesesakanmu akan hidup.
Masih ingat dengan tempat yang kemilauan tadi? Kuingatkanuntuk kesekian kalinya, jangan terlena untuk masuk. Jangan! Ini kutegaskan, tempat itu adalah tempat terlarang yang penuh dengan kutukan!
Kendalikan hasratmu. Kendalikan.
Jangan lupa juga, jembatan kita ini rapuh, sempit, dan gelap gulita.
Melangkahlah dengan yakin. Berjalan terus ke depan tanpa ragu dan takut. Yakinkan hatimu.
Kalaupun keyakinanmu juga padam, berteiaklah. Mintalah pertolongan dari sang empunya alam. Merataplah!
Menangislah, tangisi ketololanmu. Sadari kelemahanmu, insyaf kau!
Ratakan dirimu serata dengan tanah. Sujud dan minta semua perlindungan. Jembatan ini akan aman sekalipun gelap.
Tetaplah berhati-hati. Awas terperosok jatuh. Jangan gegabah dalam memilih langkah. Bersabarlah dengan kondisi yang gelap. Bersyukurlah dengan pemberian jembatan ini. Sekalipun rapuh, namun hanya inilah satu-satunya pijakanmu untuk menyebrangi dua alam itu. Kita pasti akan ke sana. Jembatan inilah penghubungnya. Kuncinya, hati-hatilah melangkah. Semua pasti akan baik. 


Sebuah tulisan di Selasa pagi, 24 September 2013

0 Terima Kasih

30 September 2013

Bahagiaku ada di dalam jiwa mereka. Bahagiaku mengalir dalam darah mereka. Bahagiaku menyatu dengan detakan jantung mereka. Bahagiaku adalah pancaran sinar mata mereka. Bahagiaku terlukis dalam senyum mereka. Bahagiaku adalah harapan dan doa-doa mereka. Bahagiaku adalah mereka. Mereka alasan mengapa ku hidup hingga kini dan nanti.

Mereka yang menua karena waktu. Mereka yang keriput karena masa menggeluti setiap kulit tubuh mereka. Inci demi inci wajah mereka kupandangi setiap waktu, terlihat semakin lelah saja. Mereka berjudi dengan asa. Harapan mereka terajut rapi dalam setiap telapak tanganku. Ya, akulah satu-satunya tumpuan harapan atas masa depan mereka kelak.

“Mami, Papa. Aku mencintai kalian. Betapa aku sangat mencintai kalian. Betapa aku sangat merindukan setiap kecupan dan pelukan hangat kalian. Setiap detik, setiap waktu. Terlalu rindu!”

“Aku takut menjadi dewasa. Aku gamang menjalani kemandirianku. Jatuh bangun aku di sini, di arena kehidupan yang penuh dengan persaingan. Kucoba melangkahkan kakiku dan berlari. Tak jarang aku jatuh dan menangis. Saat-saat itulah yang semakin membuat aku mengingat kalian.”

“Aku ingat, betapa kalian mencintaiku. Betapa kalian menjagaku dengan penuh cinta. Rasa aman selalu mengelilingiku. Kalian mengawasiku dengan rasa hati-hati, walaupun aku selalu memberontak karena merasa terlalu dikekang. Tak jarang aku membantah perkataan kalian. Tak jarang aku mengeluarkan kata-kata kasar saat kalian menuruti perkataanku. Nada suara yang keras selalu keluar dari mulutku kalau aku dilarang melakukan sesuatu. Itu semua menyakiti hati kalian. Terlalu sering permintaanku memberatkan kalian. Aku yang tak merasakan rasa letih kalian menafkahiku. Aku yang selalu saja tak paham betapa kalian mencintaiku. Maafkan aku.”

“Sering aku menolak saat disuruh melakukan sesuatu. Sering kali aku pura-pura tak mendengar panggilan kalian. Sering aku menutup telingaku saat kalian sedang marah. Sering aku malu saat kalian menciumku di depan orang ramai. Sering aku merasa terkekang karena aku selalu diantar jemput kemanapun aku pergi. Padahal kan aku sudah dewasa.”

“Sering kali aku membuat air mata kalian jatuh berlinang dengan sia-sia. Sering kali aku menuntut lebih dari yang kalian mampu. Sering kali kulupakan nasihat kalian. Sering juga aku melawan dan memasang wajah cemberut saat sedang ditanyai sesuatu. Maafkan aku mami. Maafkan aku papa. Maafkan aku yang selalu memaki saat aku sedang emosi dengan masalah yang kuhadapi."

“Aku yang pernah membanting pintu. Berteriak keras dengan arogannya aku. Sengaja tidak mencium tangan kalian saat hendak pergi keluar karena sedang marah. Ampuni aku yang nakal. Ampuni dosaku sebagai anak kalian. Aku mencintai kalian. Hanya saja aku tak tahu bagaimana cara yang benar untuk menunjukkan rasa sayangku. Aku sungguh sangat menyayangi kalian.”

“Sekarang, aku telah dewasa Mi, Pa. Aku mengalami proses hidup yang menyakitkan. Aku sering gagal, dan kemudian bangkit. Sakit kemudian pulih, sakit lagi, jatuh lagi, tersungkur, kemudian mencoba bangkit dengan sisa-sisa daya yang ada. Aku ini anakmu. Aku ini putri kecilmu. Aku ini yang telah sadar. Aku yang sekarang menyadari betapa kalian sangat berharga buatku. Aku ini yang sekarang begitu takutnya kehilangan kalian. Aku ini yang paham betapa kalian adalah tempatku mengadu. Kalianlah satu-satunya tempatku menumpahkan segala keluh. Betapa aku menyesal pernah menjadi anak yang nakal. Aku menyesal pernah membuat kalian menangis. Aku menyesal.”

“Sekarang, peluklah aku. Aku ingin kalian selalu ada di sisiku. Ini aku sedang berjuang merebut toga kebesaranku. Ini semua untuk kalian. Hanya untuk kalian. Betapa aku takut untuk tidak mampu membahagiakan kalian. Betapa aku takut waktu akan memisahkan kita. Teruslah sehat Mi! Pa!”“Aku kini belajar menghadapi setiap ujian dalam hidup. Aku ingin menang! Aku ingin mempersembahkan piala kemenagnaku hanya untuk kalian, orangtuaku. Kalianlah sumber semangat itu. Kalianlah segalanya. Kalian hartaku yang paling berharga kini dan nanti. Selamanya hanya kalian.”

“Tujuanku kini adalah banyak-banyak melukis senyum di wajah kalian. Aku ingin selalu menghangatkan kulit kalian yang semakin keriput itu. Aku ingin selalu menjadi nafas saat kalian tersenggal sesak untuk bernafas. Aku ingin menjadi angin sejuk yang membelai kalian. Aku ingin selalu menjadi obat atas rasa sakit yang kalian rasakan. Aku ingin menjadi gudang harapan kalian. Aku ingin menjadi kebanggan bagi kalian. Aku ingin kalian bangga memiliki aku. Aku ingin kalian bisa pamer dimuka umum bahwa kalian bahagia dengan keberadaanku. Akulah mata kalian, saat kelak kalian tak mampu lagi melihat. Akulah kaki kalian saat kelak kalian tak kuat untuk berjalan. Akulah tangan kalian saat kelak kalian tak mampu menggenggam. Akulah rumah doa untuk kalian.”

“Kesempatan selalu ada untuk orang yang ingin berubah. Kesempatan selalu terbuka. Kuyakin masih ada harapan. Semua yang tak mungkin PASTI menjadi mungkin. Asalkan aku benar berusaha dan meletakkan segala harapanku dalam tangan-Nya. Tuhan, restuilah niat baikku ini. Berkenanlah atas segalanya ini. AMIN!”

“Terimakasih atas segalanya yang telah kalian berikan bagiku. Aku bangga menjadi putri kalian. Aku bahagia memiliki orang tua seperti kalian. Terimakasih mami. Terimakasih papa. Terimakasih atas segalanya. Segala kepunyaanku pun kusadari takkan mampu membalas segala yang telah kalian berikan untuk hidupku. Terimakasih telah menjadi orang tua ‘super’ ya Mi, Pa. Aku, putri kecil kalian, selalu mencintai kalian.”

RASA CINTAKU BENAR-BENAR TAK TERBENDUNG UNTUK KALIAN. AKU SAYANG MAMI! AKU SAYANG PAPA! AKU SAYANG KALIAN BERDUA! MAMI DAN PAPA ITU MANUSIA SUPER! :')

0 Revisi Resensi

22 Juni 2013
halooo...
lama sudah saya tidak menulis di blog ini... Tidak ada cukup waktu dan tenaga untuk menulis di sini... Tapi, bukan berarti saya tidak menulis... Saya punya note pribadi juga di rumah :) hehehe...

Kali ini saya ingin memposting revisi dari resensi saya sebelumnya...
Puji Sang Empunya Kehidupan!!! Resesnsi saya diterimaaaa :)
Ini tulisan pertamna saya yang dipublikasikan ke khalayak umum...
Berikut revisinya... :

Judul Buku : Si Parasit Lajang
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : Februari 2013
Pada Februari 2013 kemarin, Kepustakaan Populer Gramedia menerbitkan kembali buku Si Parasit Lajang karangan seorang penulis yang sangat fenomenal setelah diterbitkan oleh Gagas Media pada tahun 2003. Penerbitan pertama buku ini benar-benar mendapat sambutan hangat dari para pembaca yang menyukai tulisan-tulisan seorang Ayu Utami. Buku ini berisi autobiografi miliknya yang mewakilkan suara hatinya sebagai seorang wanita lajang yang tangguh.

            Terdapat beberapa perubahan dalam penerbitan buku yang ke dua. Perubahan tersebut dipaparkan langsung oleh penulis yang mencantumkan penambahan beberapa poin pada pengantar yang berisi alasan mengapa seorang wasnita tidak harus menikah menurut versinya. Walau tidak banyak, perubahan tersebut cukup memberi warna baru bagi buku ini. Covernya pun berganti. Penerbitan ke dua buku ini memakai sketsa yang dibuat langsung oleh penulis. Selain yang sudah saya sebutkan, beberapa kata ataupun kalimat mendapat perubahan mengikuti perkembangan masa kini. Penyesusaian diharapkan mampu memberi 
imajinasi yang kuat bagi para pembaca yang lahir pada masa yang jauh dari masanya saat menulis buku ini. 

Membaca lembar demi lembar isi buku ini, tak ubahnya seperti membaca blog pribadi seorang Ayu Utami. Materi tulisan kebanyakan diambil dari keseharian milik penulis. Entah itu tentang pekerjaan, para sahabat, perjalanan, pemikiran feminisnya dan tentang keputusannya untuk tidak menikah di masa itu.  Pilihan yang menjadi favorit saya, adalah cerita-cerita bersama seorang teman setianya, Sahal. Benar-benar sangat alami. Banyak percakapan yang dilakukannya dengan Sahal yang menggelitik hati nurani saya dan membuat saya tersadar akan banyak hal.

Menurut saya pribadi, tulisan-tulisan dan logika berpikir yang dipaparkan Ayu Utami pada buku ini sangatlah menarik. Tulisan berjudul Parasit Lajang misalnya. Dalam bab ini Ayu Utami menuliskan alasan penyebutan Parasit Lajang bagi wanita yang memutuskan untuk tidak menikah. Ternyata penyebutan itu didapat dari seorang feminis Jepang. Menurut Ayu Utami, yang diambil dari riset temannya, kebanyakan perempuan Jepang yang karirnya maju tidak menikah. Dan wanita demikian umumnya tetap menumpang di rumah orang tua mereka, rumah yang tak perlu mereka pedulikan sebab ada ibu yang mengerjakan itu, dan ayah yang tak rela membiarkan gadisnya sendirian. Penulis  menyebut makhluk seperti ini, barangkali juga dirinya sendiri, single parasite (Parasit Lajang).
 Tulisan menarik lainnya juga ada pada bab Rocco Siffredi. Sebenarnya ini bab tentang film porno, namun bagi saya tetap ada sebuah pemikiran menarik yang didapat dari tulisan ini. Kapitalisme akan melihat manusia sebagai pasar. Karena itu kebutuhannya harus dipenuhi. Memang, persoalannya selera perempuan masih di bawah bentukan selera pria . Tapi, sekali lagi, kapitalisme juga menyediakan jalan.

Saat ini sudah mulai banyak produk kecantikan buat lelaki. Sabun dengan janji membuat muka tidak berminyak. Obat jerawat. Susu sixpack. Banyak iklam mulai mengeksplorasi sensualitas pria. Pria juga harus bagus, sebagaimana selama ini perempuan dituntut. Tentu ini tidak adil bagi mereka yang tidak memenuhi kriteria bagus pada jamannya. Tapi, demi strategi, biarlah. Biar cowok-cowok itu tak seenaknya merasa berhak menilai perempuan secara fisik. Mereka juga akan dinilai sebagai objek.

Tulisan-tulisan Ayu Utami pada setiap babnya sangat frontal dan berani. Berbagai pesan yang disampaikan juga sangat menggelitik. Hampir semua karyanya yang dituang dari buku ini mengandung kebenaran. Fakta-fakta tersirat juga dikuak dalam buku ini. Sangat cerdas. Meskipun penulis menyimpang dari nilai-nilai adat, budaya, dan agama ketimuran, namun kekuatannya berfikir dan bersikap kritid tak mengurangi harganya sebagai seorang penulis permepuan yang cerdas. Sedikit ngotot dengan pendapatnya namun penulis menggunakan gaya bahasa yang halus dan tidak dengan penuh emosi.

Dalam buku ini, Ayu Utami menegaskan bahwa menikah adalah pilihan dan bukan merupakan kewajiban, khususnya buat para wanita. Tidak ataupun belum menikah bukanlah merupakan sebuah aib yang memalukan yang harus diratapi. Wanita lajang yang sudah berumur tidak harus dikucilkan dan dirasa 'tidak laku'. Sebab dengan menggunakan sebuah riset seorang temannya yang merupakan wanita Jepang, dia mengatakan bahwa wanita lajang di Jepang jauh lebih sukse dengan yang menikah. Jadi jelas bahwa harga wanita single itu mahal.

Buku ini baik sekali untuki menjadi bahan bacaan setiap wanita yang memilih untuk tetap 'single' ,aupun beluim siap berhadapan dengan pernikahan. Para wanita yang belum ata8upun tidak menikah dengan alasan apapun tidak perlu merasa cemas dan minder dengan status yang mereka sandang. Pilihan untuk tidak menikah bukanlah pilihan yang 'haram' sebenarnya. Tidak sepatutnya wanita lajang itu merasa malu dan rendah diri. Melalui buku ini, para wanita dapat lebih percaya diri dengan keberadaannya. Bahwa wanita tidak lagi harus menerima begitu saja apa yang menjadi jalan hidupnya mengenai statusnya sebagai wanita yang harus menjadi 'istri' atau apapun. Wanita berhak memilih jalan hidupnya. 
Nilai humanis dan kebebasan memilih sangat ditonjolkan pada tulisan-tulisannya. Perlindungan hak-hak wanita sebagai manusia sangat dibahsa dan mendapat banyak proteksi dari penulis yang juga sangat getol mengkampanyekan tentang ideologi-ideologi feminisnya.  Byuku ini perlu menjadi bacaan para pria juga agar cara berpikir pria dapat lebigh 'open minded'. Pria harusnya melindungi wanita dan bukan menjadikan wanita sebagai objek dan memainkannya.

Ayu Utami menyadarkan dan mengetuk hati nurani kita dengan sangat lantang tentang hasil aplikatif yang realistis mengenai nilai-nilai dan pelajaran mengenai agama yang menhikat kita. Ditegaskan dalam kutipannya berikut ini: “Saya teringat seorang teman. Dia pria, sudah menikah, dan punya pacar lagi. Si pacar mau bersetubuh dengan dia tetapi dia hanya mau jika mereka menikah. Saya bilang, “Kenapa tidak berzinah saja?” Ia jawab, “Nanti Tuhan menangis.” Saya katakan lagi, “Kenapa kamu memilih menyakiti istrimu, pihak yang le

Benar-benar buku yang sangat cerdas. Kemampuan berbahasa Ayu Utami sangat membantunya untuk membuat buku ini tidak terasa berat. Keberpihakannya kepada kaum feminis juga tidak terlalu mencolok dan memojokkan kaum pria. Ayu memang mengangkat sisi kekuatan dari seorang wanita lajang yang berkomitmen untuk hidup secara bebas, namun ia juga tidak ‘menjatuhkan’ para pria yang cenderung menjadi syarat utama wanita untuk bahagia.

Kelemahan dari buku ini ialah sulit diterima oleh beberapa golongan yang bertentangan dengan kaum feminis. Buku ini sebenarnya dapat dibaca oleh semua golongan, hanya saja tentu sulit. Mengapa? Banyak ideologi-ideologi ataupun pandangan yang sangat jauh berbeda dari yang kebanyakan yang diungkap di sini. Sehingga pandangan tersebut terpojok oleh keadaan pada umumnya. Soalnya Ayu Utami telah menembus zona nyaman keterikatan seorang wanita pada nilai-nilai kuno yang kaku. . Selain itu, adat, budaya, dan agama yang masih dalam area ketimuran sangat-sangat di'terobosnya' lewat begoitu saja. Lawannya adalah mereka yang mengagungkan nilai-nilai itu semua. Namun, apa yang telah disampaikan penulis sebenarnya sangat benar. Ayu Utami sangat berani dan kritis. Ayu Utami adalah Kartini reformasi bagi saya

2 Resensi : Si Parasit Lajang (Ayu Utami)

10 Juni 2013
Hai sahabat, kali ini saya mulai belajar meresensi sebuah buku. Awalnya saya terinspirasi oleh sebuah tawaran yang berasal dari seorang senior saya untuk menulis di rubrik 'resensi' majalah yang dikelola oleh beliau. Sebenarnya saya diminta untuk meresensi 'Gadis Pantai' karya Pram, namun karena ada kesalahan komunikasi di antara kami, resensi novel tersebut ternyata sudah pernah terbit. Dengan deadline satu hari lagi, saya dipaksa untuk meresensi buku lain yang baru saya baca. Setelah bingung mencari, saya menjatuhkan pilihan pada buku karangan Ayu Utami, Si Parasit Lajang. Berikut resensi saya :


Judul Buku : Si Parasit Lajang
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : Februari 2013

Kali ini saya sangat tertarik untuk meresensi buku karangan Ayu Utami yang berjudul ‘Si Parasit Lajang’. Pada Februari 2013 kemarin, Kepustakaan Populer Gramedia menerbitkan kembali buku ini setelah diterbitkan oleh Gagas Media pada tahun 2003. Penerbitan pertama oleh Gagas Media mendapat sambutan hangat dari para pembaca yang menyukai tulisan-tulisan seorang Ayu Utami.
            Buku ‘Si Parasit Lajang’ yang kembali diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia ini memiliki beberapa perubahan (baik penambahan dan pengurangan) pada beberapa isinya. Salah satu yang sangat menonjol adalah beberapa alasan penulis mengapa ia memilih untuk tidak menikah pada saat menulis buku ini. Perubahan lain yang tampak jelas terletak pada cover. Untuk terbitan tahun 2013 ini, Ayu Utami menciptakan sketsanya sendiri untuk cover buku ‘Si Parasit Lajang’.
Saat membaca buku ini, tak ubahnya seperti membaca blog pribadi Ayu Utami. Materi tulisan kebanyakan diambil dari keseharian penulis. Entah itu tentang pekerjaan, para sahabat, perjalanan, pemikiran feminisnya dan tentang keputusannya untuk tidak menikah di masa itu.  Pilihan yang menjadi favorit saya, adalah cerita-cerita bersama seorang teman setianya, Sahal.
Menurut saya pribadi, tulisan-tulisan dan logika berpikir yang dipaparkan Ayu Utami pada buku ini sangatlah menarik. Tulisan berjudul Parasit Lajang misalnya. Dalam bab ini Ayu Utami menuliskan alasan penyebutan Parasit Lajang bagi wanita yang memutuskan untuk tidak menikah. Ternyata penyebutan itu didapat dari seorang feminis Jepang.
Menurut Ayu Utami, yang diambil dari riset temannya, kebanyakan perempuan Jepang yang karirnya maju tidak menikah. Dan wanita demikian umumnya tetap menumpang di rumah orang tua mereka, rumah yang tak perlu mereka pedulikan sebab ada ibu yang mengerjakan itu, dan ayah yang tak rela membiarkan gadisnya sendirian. Penulis  menyebut makhluk seperti ini, barangkali juga dirinya sendiri, single parasite (Parasit Lajang).
Tulisan menarik lainnya juga ada pada bab Rocco Siffredi. Sebenarnya ini bab tentang film porno, namun bagi saya tetap ada sebuah pemikiran menarik yang didapat dari tulisan ini. Kapitalisme akan melihat manusia sebagai pasar. Karena itu kebutuhannya harus dipenuhi. Memang, persoalannya selera perempuan masih di bawah bentukan selera pria . Tapi, sekali lagi, kapitalisme juga menyediakan jalan.
Saat ini sudah mulai banyak produk kecantikan buat lelaki. Sabun dengan janji membuat muka tidak berminyak. Obat jerawat. Susu sixpack. Banyak iklam mulai mengeksplorasi sensualitas pria. Pria juga harus bagus, sebagaimana selama ini perempuan dituntut. Tentu ini tidak adil bagi mereka yang tidak memenuhi kriteria bagus pada jamannya. Tapi, demi strategi, biarlah. Biar cowok-cowok itu tak seenaknya merasa berhak menilai perempuan secara fisik. Mereka juga akan dinilai sebagai objek.
Tulisan-tulisan Ayu Utami pada setiap babnya sangat frontal dan berani. Berbagai pesan yang disampaikan juga sangat menggelitik. Hampir semua karyanya yang dituang dari buku ini mengandung kebenaran. Fakta-fakta tersirat juga dikuak dalam buku ini. Sangat cerdas.
Bahasa yang digunakan juga sangat mudah dipahami. Sehingga membuat pembaca seolah sedang bertatap muka dengan penulis. Tidak bertele-tele, singkat, lugas, dan padat adalah gaya menulis Ayu Utami yang dituangkan di sini. Keberpihakannya kepada kaum feminis juga tidak terlalu mencolok dan memojokkan kaum pria. Ayu memang mengangkat sisi kekuatan dari seorang wanita lajang yang berkomitmen untuk hidup secara bebas, namun ia juga tidak ‘menjatuhkan’ para pria yang cenderung menjadi syarat utama wanita untuk bahagia.

Kelemahan dari buku ini ialah sulit diterima oleh beberapa golongan yang bertentangan dengan kaum feminis. Buku ini sebenarnya dapat dibaca oleh semua golongan, hanya saja tentu sulit. Mengapa? Banyak ideologi-ideologi ataupun pandangan yang sangat jauh berbeda dari yang kebanyakan yang diungkap di sini. Sehingga pandangan tersebut terpojok oleh keadaan pada umumnya. Soalnya Ayu Utami telah menembus zona nyaman keterikatan seorang wanita pada nilai-nilai kuno yang kaku. Ayu Utami adalah Kartini reformasi bagi saya.

oleh : Bernadette Putri Amelia (puu)
@BernPutriA

0 nyawa ( kosong )

1 Juni 2013
Menulis dengan nyawa.
Kalimat itu memaksaku untuk terus merenung. Saat aku membaca sebuah buku ‘best seller’ milik salah seorang tokoh penulis yang terkenal di Indonesia. Aku tahu tapi sesungguhnya aku tak memahaminya. ‘kamu hanya menulis dengan serangkaian kata yang kamu pilih. Bagus, namun tak bernyawa’ Mirip sekali. Ya, kalimat yang ada di buku yang kubaca sama persisnya dengan sebuah komentar yang aku terima dari seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Entah aku ini terlalu berlebihan menyebut orang itu demikian, namun begitulah yang kurasakan. Dia membawaku terbang bebas. Memaknai hidup dengan keaslian. Kurasa dia sangat hebat dalam menilai sesuatu. Dia benar, aku sendiri mengakui itu. Aku seperti kehilangan nyawa. Yang aku sadari bahwa nyawa itu hanya datang jika aku menulis secara jujur. Menggambar isi hati dengan kata-kata yang polos. Mengalir. Tanpa harus takut salah. ‘Nyawa...’ gumamku dalam hati. Masih dalam posisi telentang aku menghadap langit-langit kamarku. Diam sejenak lalu mulai menelusuri ingatan demi ingatan terdahulu. Aku masuk ke dalam rekaman-rekaman histori perjalanan hidupku. Banyak sekali. Sampai-sampai aku hampir melupakan sebagian dari apa yang pernah aku lewati. Kisah demi kisah kubaca abstrak dalam memori otakku. Seperti sedang menonton film, aku menonton diriku sendiri. Di sana, di alam ingatan itu. Aku menemukan nyawa. Banyak kejujuran yang semakin terkikis oleh tuntutan keadaan. Nyawa itu, kejujuranku menjalani hidup. Kejujuran yang kumaksud adalah keberanianku menyuarakan inginku. Cita-cita, hobi, minat, bakat, dan usahaku untuk mereka. Saat aku menjadi diriku sendiri. Bersahabat dengan mereka. Berkelakar dalam imajinasi di luar nalar manusia. Duniaku, tempat dimana aku bebas mengekspresikan segalaku. Tanpa harus menjadi siapa agar apa. Aku, dulu di duniaku bersama dengan kejujuranku. Kini, aku sendiripun merasa, nyawaku hilang terbang. Hari demi hari bergulir dengan biasanya. Tak ada minat, hasrat, dan rasa antusias. Semua terjadi saja dengan seadanya. Mengalir seperti air yang akhirnya akan bermuara ke laut.  Diam, tenggelam, dan lenyap. Belum sampai aku di sana. Masih dalam perjalanan terhanyut dalam arusnya. Aku belum lenyap. Tersadar dalam diam, bantalku basah. Airmata menggenangi sudut kiri dan kanan mataku. Mereka membasahi pipi kanan dan kiri lalu tumpah terserap oleh kain bantal merah jambu milikku. Aku menghela nafas panjang, lalu tersendat membuangnya. ‘Dimana nyawa itu’ aku bergumam. Hatiku seolah berbicara. ‘Dia di sini. Segera temukan dia. Kau mampu’ Seperti berdialog dengan seorang kawan, aku berdialog dengan diriku sendiri, suara hatiku. ‘Apakah aku mampu?’ Ya, aku tak yakin apakah aku akan mampu kembali menjadi aku yang ‘bernyawa’. Dikte dan larangan sudah terlalu tebal menutupi hasrat ini. Tekanan dan ketakutan biasa menghujaniku. Keterbatasan dan keadaan membuatku harus berpikir realistis. Keadaan yang memaksa tunduk kepada realita. Apa itu realita? Sebegitu kejamnyakah hingga ia merampas nyawaku? Aku hidup, tapi dalam kekosongan. Semua merupakan paksaan. Semua ini paksaan! Aku harus menjadi itu karena supaya aku bagaimana. Aku harus begini supaya aku begitu. Hal terburuk yang menjadi dampaknya adalah aku. Aku yang sekarang ini. Aku yang biasa dengan dikte dan kekangan. Aku yang terkekang dengan batasan realita. Bermimpi setinggi langit-langit kamarku pun aku takut. Takut terjatuh dan merasakan sakit. Dimana semua mimpi-mimpiku? Kejujuranku menjadi diriku sendiri, kini hilang. Lenyap. Perjalananku hanya sebuah kebohongan. Aku bukanlah diriku. Kini, aku masih menjadi aku yang memaksa mencoba menjadi siapa. Berlaku demikian supaya apa dan bagaimana. Terpaksa, untuk menyenangkan hati-hati mereka yang inginkan aku begini begitu. Keadaan. Salah satunya adalah keadaan selain orang tuaku. Realita ini begitu kejam sampai-sampai dia merampas nyawaku. Jangan salahkan aku, aku kini hilang hasrat. Menjalani semuanya hanya demi menjalankan kewajiban. Demi memuaskan orang lain. Bukan memuaskanku. Dalam keadaan masih terlentang, aku menutup mataku yang terasa perih akibat menagis terlalu lama, lalu kembali menghela nafas panjang. Aku bangkit perlahan dan mengambil langkah kecil kearah cermin. Aku melihat wajahku. Tanpa ekspresi, datar. Kusoroti kedua mata yang adalah mataku. Kulihat kedalam, dalam, dalam, aku mendapatinya. Terlalu jauh. Nyawa ku sudah terlalu jauh tertanam di sana. Jauh. Terlalu lelah untuk mengambilnya kembali. Biarlah aku menjadi diriku ini yang entah siapa. Agar aku dapat menjadi apa dan bagaimana. Dan hasratku, biarkan kujamah mereka dalam diamku, kekosonganku. Aku (terpaksa) bahagia. Bahagia dalam diri yang lain. Siapa yang akan menjadi apa. Aku yang berbeda dengan aku yang terdahulu.

0 9 NYAWA

31 Mei 2013

Manusia dengan 9 nyawa. Begitulah pantasnya gadis itu disapa. Entah apa yang membuatnya selalu terhindar dari kematian. Padahal, maut tak bosan-bosan mendekati dan menyapanya. Sejak bayi, dia sudah sakit-sakitan. Serangan penyakit mematikan bertubi-tubi datang menyerang, namun ia tetap bertahan. Tubuh yang kecil mungil sudah harus dihiasi dengan segala jenis selang untuk bertahan hidup. Kulit halus nan lembut pun dipenuhi dengan jahitan-jahitan mengerikan. Dia tampak begitu bersahabat dengan alat-alat rumah sakit yang membantunya bernafas, meskipun tersenggal-senggal. Menggenaskan sekali nasib gadis malang itu. Rumah sakit menjadi ‘rumah kedua’ baginya.
Beruntung dia memiliki sepasang kakek dan nenek yang luar biasa, serta keluarga yang amat sangat menyayanginya. Harapan hidup adalah sebuah ucapan penghiburan semata dari semua orang yang menjenguk bayi mungil itu, kemudian merasa iba. Namun hal tersebut sama sekali tidak menyurutkan optimisme keluarganya untuk menanti kesembuhan bagi dia. Oh, bayi mungil yang malang.
Akhirnya semangat sokongan keluarga yang benar-benar mengharapkan kesembuhan bagi si bayi malang tidak sia-sia. Semua harapan dan usaha mereka berbuah manis. Bayi yang lemah kini telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa yang amat sehat, cantik, dan cerdas. Setiap bertemu siapa saja yang ‘pasrah’ dengan kondisinya terdahulu, gadis itu selalu mendengar kata-kata yang mencerminkan ekspresi takjub dan haru. Air muka mereka tampak berpeluh, heran dirasa. Mereka tak henti memeluk dan menciumi gadis yang memiliki 9 nyawa tersebut. Semua memuji kebesaran Sang Empunya kehidupan. Segala ucapan syukur keluar dari mulut-mulut mereka yang tak menyangka bahwa gadis ini masih mampu bertahan dan bertumbuh hingga dewasa.
Mendengar segala kesaksian yang diutarakan oleh semua orang tentangnya dan dikuatkan oleh dokumentasi foto-foto saat masa-masa operasinya, dia merasa bahwa hidup ini bukan sekedar kehidupan baginya. Artinya, apa yang dialaminya bukan hal lumrah yang dialami orang kebanyakan. Dia merasa ‘terpilih’ unutk menerima hadiah nyawa kehidupan ini. Nyawa kedua baginya. Kehidupan kedua atau apalah namanya. Dia sangat bersyukur. Walau bekas jahitan yang mengerikan masih mengiasi sebagian tubuhnya, namun gadis itu tetap bersyukur.
Saya sangat menaruh simpati pada keluarganya. Benar-benar optimisme yang luar biasa! Tanpa ada mereka yang menyokong dengan harapan, mungkin tak akan pernah ada seorang gadis yang bertumbuh hingga berusia 20 tahun sekarang ini. Tidak akan ada dia, si gadis dengan 9 nyawa. Pahamilah, kekuatan sebuah harapan itu sangat luar biasa! Kepercayaan mampu mengubah situasi sekitar kita. Ya, berpikirlah bahwa kamu bahagia, maka kamu akan bahagia! Coba saja kalau tidak percaya. Hehehe.
Hal yang mustahil, terasa sangat mungkin apabila pola pikir kita dapat memiliki konsep yang sangat matang mengenai optimisme hidup. Berjuang, percaya, dan lakukan. Kita akan menjadi makhluk yang kesekian untuk menjadi seperti gadis itu. Makhluk yang terpilih. Mungkin.

0 ANEH. DINGIN.

21 Mei 2013
Dia, tersudut (disudutkan) dalam sudut bungkam. Awalnya tak teringat hari itulah harinya. Hari bersejarah bagi hidupmu. Dia hampir lupa. Bisa juga dikatakan sama sekali tidak ingat. Namun batinnya tiba-tiba tersentak. Jantungnya memacu lebih kencang. Kakinya bergetar hebat. Peluhnya mencair dan tangis memecah lautan manusia siang itu. Ya, hari itulah harimu. Hari bersejarah yang seharusnya menjadi miliknya juga. Tak mau membuang waktu, dia segera berlari mencarimu. Gamang dirasanya. Nanar dalam keramaian. Matanya terus mencari-cari. Badannya berputar memusatkan pandangan pada setiap sudut. Berharap kalau-kalau kau ada. Dia begitu berhasrat melihatmu dengan toga dan jubah kebesaranmu. Sangat ingiiiin. Bisakah kau rasakan getaran itu? Dia memanggil-manggil namamu dalam hatinya. Dengarlah. Dengar. Langkahnya terus menyapu setiap sudut jalan berpacu dengan segala kemungkinan. Kalau-kalau kau sudah pergi. Barangkali kau sudah tak lagi di tempat itu. Namun dia tak menyurutkan langkahnya. Terus mencari dan mencari. Padahal dia sendiripun tak paham untuk apa da melakukan itu. Kata-kata apa yang akan dikeluarkannya jika nanti kau telah ada dihadapnya. Dasar bocah bodoh. Miris.
Sejenak ia lelah. Menutup mukanya dan mengambil nafas terengah-engah. Dalam hati dia membuat perjanjian dengan Tuhan. Entah itu janji atau sebuah tantangan atau apalah, aku tak begitu memahaminya. Dia bergumam,"kalau berjodoh, aku akan melihatmu. ya, melihatmu. walau dari jauh. aku harus melihatmu tersenyum dengan kelulusanmu. Tuhan akan membantuku."
cring!
Tiba-tiba entah angin apa yang membawamu, kau ada. Kau masih di sana. Di pinggir sebuah jalan dengan telepon genggam yang menempel di telingamu. Dia melihatmu. Ya, dia melihatmu. Dengan nafas masih tersenggal, dia berjalan mendekatimu. Kakinya seketika kaku. Langkahnya berat. Dia merasa sangat gugup. Lidahnya kelu, tak tahu hendak berbicara apa. Semakin dekat, dekat, hingga kalian hanya berjrak sejengkal. Berkali-kali dia menelan ludah mencoba tenang. Namun tetap saja masih terlihat aneh.
'hai' kulihat dia menyapamu dengan datar sambil menyodorkan tangan ke arahmu. Seketika itu juga kau menghentikan percakapanmu di telepon dan menyambut tangannya. Ah...seketika itu juga dia merasa inging tumbang. Rasa senang. gugup, malu bercampur jadi satu. Dadanya serasa ingin meledak. Benar-benar aneh. Dingin namun ada aliran hangat yang tersalurkan melalu jabatan tangan itu.
Tidakkah kau tahu dia ingin meledak? Air matanya dipaksanya 'diam'. Sakitttt...
Senyum sumringah tetap dia jadikan topeng untuk menutup kegusarannya di hadapanmu.
Heiii...lepas...jangan menggenggam tangannya terlalu lama. Dia bisa mati pingsan!
Percakapan di tutup dengan kata 'selamat'.
Ya....selamat.
Dengan sesenggukan dia berpaling dan berjalan menjauhimu.
Berat. Sangat berat.
Spontan dia berteriak. Lari sekencang yang ia mampu. Tangisnya tumpah.
Perih. Hatinya teriris kenangan lama yang sebenarnya belum dapat dia relakan.
Jauh sudah. Dia darimu. Semakin jauh. Jauh memisah asa yang pernah tergambar dulu.
Kini? Hanya ilusi kenikmatan yang kadang membuat dia tersenyum dalam tangisnya setiap kali ingatan tentangmu melintas dalam benaknya. Dengan hujan.

0 Belajar Menulis Citizen Reporter: MEMPERINGATI INTERNATIONAL WOMEN’S DAY

5 April 2013


Saya mengikuti sebuah aksi orasi dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD) pada tanggal 8 Maret 2013 silam. Aksi orasi ini merupakan bentuk partisipasi mahasiswa yang perduli dengan isu-isu perempuan yang marak beredar di ranah publik akhir-akhir ini. Ada sekitar 8 organisasi yang menaruh sumbangsih dalam kegiatan ini, diantaranya beberapa organisasi mahasiswa, organisasi yang bergerak membela kaum perempuan, organisasi yang peduli dengan nasib kaum tani, dan organisasi masyarakat lainnya. Saya bersama puluhan massa berkumpul di Tugu SIB, tempat yang sudah disepakati sebelumnya untuk kami berkumpul.
Masing-masing dari kami memegang sebuah poster dan spanduk-spanduk yang berisikan protes kami terhadap diskriminasi kaum perempuan di negeri ini. Ada poster yang bertuliskan ‘Hentikan Pelecehan Seksual Kepada Kaum Perempuan!!!’, ‘Berikan Cuti Haid Kepada Perempuan!!!’, ‘Tubuh Perempuan Bukan Objek Penjualan Kaum Kapitalis!!!’, ‘Berikan Ruang Gerak Politik Yang Bebas Bagi Kaum Perempuan!!!’, dan lain sebagainya. Dari beberapa aspirasi yang ditulis di atas, jelas bahwa permasalahan perempuan saat ini sangat memprihatinkan, khususnya di negeri ini.
Komnas Perempuan mencatat dalam waktu 13 tahun terakhir ini ada sekitar 93.690 kasus kekerasan seksual yang dilaporkan. Artinya, setiap hari ada 20 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual. Pada tahun 2011, Komnas Perempuan mencatat ada 119.107 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 4.377 kasus diantaranya merupakan kasus kekerasan seksual. Fakta ini sangat mengiris perasaan kami yang sadar dengan permasalahan ini.
Pada pukul 10.30 WIB, kami memulai aksi kami dan menyiapkan mental dan tekad kami untuk ‘berperang’. Kami turun ke jalan dan memadati hampir ¾ jalanan yang notabene merupakan jalanan padat kota. Alhasil kemacetan terjadi dan tak sedikit mata yang memandang ke arah kami. Ada yang memandang sinis, ada yang tertawa, bahkan ada yang mengambil gambar kami saat sedang melakukan aksi.
Kami berbaris rapi, lengkap dengan spanduk, bendera Indonesia dan bendera masing-masing organisasi, spanduk-spanduk besar, dan sebuah pita ‘pink’ yang mengikat tangan kiri kami. Terlihat beberapa kaum pria yang ikut andil dalam barisan kami. Ini membuktikan bahwa permasalah isu perempuan bukan hanya kaum perempuan yang perduli, melainkan juga kaum pria yang sadar akan kesenjangan dalam stratifikasi gender yang membelenggu.
Ketua koordinator memberi aba-aba dan orasi singkatnya. Kemudian dilanjutkan oleh salah seorang mahasiswa yang merupakan ketua dari sebuah kelompok studi mahasiswa. Beberapa aparat kepolisian mendampingi kami dan tetap memantau kegiatan kami. Aksi berjalan lancar dan aman tanpa ada tindakan anarkisme. Wajar saja, hampir setengah dari kami adalah ibu-ibu yang sudah hampir lanjut usianya. Tidak mungkin anarkisme terjadi. Kemungkinannya sangat kecil.
Setelah kurang lebih 1 jam kami berorasi di samping Tugu SIB, kami melanjutkan perjalanan kami menuju kantor DPRD Sumatera Utara. Kami semua berjalan kaki dengan berbaris rapi. Jalanan semakin padat, smapai-sampai aparat kepolisian mengalihkan pengendara bermotor ke jalan yang lain. Di sepanjang jalan kami meneriakkan aspirasi kami dan bernyanyi ‘yale-yale’ dengan semangat. Panasnya terik siang itu tak menyurutkan langkah kami untuk terus melanjutkan kegiatan kami. Secara serentak kami bernyanyi nyanyian yang katanya memang merupakan nyanyian wajib bagi massa yang melakukan aksi demonstrasi.
Sejujurnya, saya sendiri baru pertama kali mengikuti aksi semacam ini. Rasa canggung pasti ada, namun semangat teman-teman seperjuangan lainnya membuat saya melebur dan akhirnya mampu menyatukan diri dengan mereka. Saya melihat semangat juang yang tinggi dari para mahasiswa dan masyarakat yang perduli dengan nasib perempuan di negeri ini. Saya terharu dengan semuanya ini. Kalau dulu saya hanya bisa melihat dari jauh dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang diinginkan para demonstran ini sehingga melakukan demonstrasinya, namun sekarang saya sudah paham untuk apa ini semua dilakukan. Aspirasi rakyat dibelenggu.
Di depan kantor DPRD Sumatera Utara, terlihat pagar-pagar duri menghiasi depan kantor DPRD Sumut tersebut. Timbul pertanyaan dalam benak saya mengapa harus dipagari dengan seketat ini? Bukankah kantor ini adalah rumah kami, rumah rakyat? Tidak adakah hak kami untuk menyuarakan isi hati kami kepada para wakil-wakil kami? Orang-orang yang berbahayakah kami sehingga para wakil rakyat kami takut kepada kami dengan memenuhi semua area dengan pagar-pagar besi berduri? Kami tidak akan anarkis kalau kami diperlakukan dengan baik. Sadarkah kita semua akan hal itu?
Semua yang ada di depan kami tak menyurutkan niat kami untuk terus berorasi. Setelah beberapa jam berlalu, tampak sekumpulan bapak-bapak pejabat keluar mendekati kami dengan dikawal oleh aparat keamanan. Mereka berjarak sekitar 5 meter di hadapan kami, berdiri dan mendengar suara-suara kami. Kemudian salah seorang dari mereka menanggapi setiap permohonan kami. Tidak begitu lama, hanya sekitar 5 menit saja beliau berbicara di hadapan kami. Dengan sigap kami pun meminta izin untuk mengirimkan sebuah fax kepada beberapa lembaga terkait di ibu kota. 2 orang dari barisan kami, mewakili untuk masuk ke dalam gedung DPRD untuk mengirim poin-poin permohonan kami melalui fax.
Aksi berjalan mulus dan kami pun masih menanti tanggapan dari para petinggi negara terhadap aspirasi kami ini. Semoga saja, keberadaan perempuan di negeri ini lebih diperhatikan dan dilindungi hak-haknya. Semoga.

0 Profesi Guru Bukan Profesi Rendahan (!)

3 April 2013


Berbicara mengenai pembinaan guru di Indonesia, saya, selaku masyarakat dan mahasiswa, memandang bahwa masih banyak sekali kekurangan yang sangat harus dibenahi dalam pembinaan tenaga pengajar di Indonesia ini. Sebenarnya saya bingung mau memulainya dari mana, tapi saya akan mencoba memaparkan beberapa yang umum saja masalah yang sering muncul ke permukaan publik. Masalah-masalah tersebut adalah berupa ‘diskriminasi’ citra, baik sejak mulai mengemban bangku kuliah hingga telah sah menjadi seorang guru dan memiliki pengalaman mengajar.
                Diskriminasi yang saya maksudkan di sini adalah berupa citra dan pandangan masyarakat luas bahwa Lembaga Institusi Keguruan, kita katakanlah Universitas khusus mendidik para calon guru, contohnya UNIMED, UNY, UPI, dsb, dianggap tidak sebonavit universitas negeri lain yang mengajarkan ilmu-ilmu murni, seperti ITB, UI, USU, dsb. Kita melihat, dari segi fasilitas saja universitas yang menyiapkan calon guru, jauh lebih minim fasilitasnya dibandingkan dengan universitas lain. Kualitas pengajarannya juga jauh dari kata profesional yang sebenarnya. Alaupun memang beberapa universitas di pulau Jawa seperti, UPI dan UNJ, sudah sedikit lebih maju. Namun kenyataannya tidak dipungkiri bahwa ratingnya berada dibawah UI dan ITB, yang notabene universitas tetangga dan berada dalam satu kota yang sama.
                Fasilitas yang minim tentu akan menghambat proses belajar mengajar di dalamnya. Sistem pengajarannya juga tidak seaktif yang ada pada universitas negeri yang bukan keguruan. Anggapan masyarakat awam tentang keguruan adalah bahwa orang-orang yang mengemban ilmu di sana tidak sama terjaminnya dengan orang-orang yang mengemban di universitas yang non pendidikan. Seolah-olah paradigma tersebut sudah menjadi momok yang menakutkan bagi para lulusan SMA yang hendak memasuki perguruan tinggi. Lulusan dari universitas yang berbasis kependidikan pun dianggap seolah tak lebih berkompeten dibanding dengan yang non pendidikan.
                Para pelaku profesionalitas pendidikan, atau kita katakanlah para guru, juga dianggap tak menjamin kehidupan bagi para pelakunya. Arti kata, gaji yang diterima guru tidak sebesar dengan gaji yang dapat diperoleh oleh profesionalitas lainnya. Hal ini benar-benar sangat memprihatinkan. Apakah pekerjaan guru merupakan pekerjaan rendahan? Apakah profesi guru tak layak dipandang sebagai sebuah profesi yang menjanjikan? Apakah guru idak layak untuk bersaing di era globalisasi masa sekarang ini? Saya merasa aneh dengan pandangan dan cara berpikir masyarakat Indonesia. Di negara-negara maju, Finlandia contohnya, pendidikan mereka sangat maju. Hal itu semata-mata karena tenaga pengajar yang memang benar-benar dipersiapkan dengan sangat matang dan layak.
                Tonggak perubahan negeri kita ini tidak lain dan tidak bukan adalah melalui pendidikan. Apapun aspek yang ingin ditingkatkan, salah satu dasar yang harus dibenahi adalah pendidikannya. Pendidikan melalui tenaga-tenaga pengajar yang profesional. Sehingga sumber daya manusianya dapat dipersiapkan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Jadi, profesi guru bukanlah profesi rendahan yang seperti ada dalam pandangan masyarakat luas.
                Pembinaan guru berupa penataran dan pelatihan-pelatihan terkait pun sangat minim sekali kita temui di pelosok negeri ini. Semua tidak terlaksana secara merata. Masih banyak guru-guru senior yang belum paham menggunakan teknologi informasi dan sejenisnya. Dalam beberapa desa, internet juga merupakan hal yang langka. Kurikulum menuntut untuk menyesuaikan pendidikan dan metode belajar yang mengacu pada globalisasi, namun sarana dan prasaran pun tidak diperlengkapi. Siapa yang mau bertanggung jawab di sini? Apa yang harus dilakukan guru? Guru-guru bingung. Tidak ada kejelasan dalam segala hal yang terkait. Antara pemerintah pusat dengan  guru pun tidak terjalin hubungan kekerabatan yang erat. Padahal guru merupakan ujung tombak dari proses pencapaian tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum. Menurut saya hal ini benar-benar sangat meilukan. Mengingat masih banyak sekali guru-guru honor yang tidak jelas masa depannya, sekolah-sekolah tempat guru mengajar yang jauh dari kata layak.
                Sertifikasi guru yang ada sekarang saya kira benar-benar terlambat. Mengapa baru sekarang ini pemerintah memperhatikan nasib guru? Sertifikasi ini pun saya kira prosedurnya terlalu bertele-tele. Banyak korban berjatuhan akibat program sertifikasi ini, terutama guru-guru senior yang sudah lanjut usia. Berapapun tunjangan yang diberikan melalui progra sertifikasi guru ini, menurut saya belum mampu mengganti rasa pengabdian guru-guru senior yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidilkan.
                Kesenjangan sosial terjadi dalam kehidupan guru-guru selama ini. Kesenjangan ini hanyalah dampak kurang perhatiannya pemerintah dengan dunia pendidikan dan profesi keguruan. Saya rasa organisasi-organisasi kependidikan dan keguruan juga sudah mulai perlu membenahi diri lagi. Kuatkan barisan dan mulai menata kembali rencana-rencana kedepan untuk memperjuangkan hak-hak yang sepatutnya diperoleh oleh guru-guru.
                Segala bentuk ketidakadilan harus ditindak agar kebaikan bersama dapat tercapai. Negeri ini bukan hanya milik segelintir orang ataupun kelompok tertentu. Negeri ini bukan hanya milik profesional-profesional lain saja, melainkan segala bidang profesi yang ada dalam negeri ini dapat ikut andil dalam setiap proses perkembangan negeri ini.
                Saya, Putri Amelia, ingin sekali menjadi seorang guru untuk membuktikan bahwa profesi guru bukanlah profesi rendahan yang hanya dipandang sebelah mata. Saya ingin membuktikan bahwa guru juga dapat diperhitungkan sebagai kaum-kaum cendekia yang berintelektual tinggi. Sekian dari saya.

Tulisan di atas merupakan tulisan yang terpaksa saya kerjakan karena deadline tugas...hahahhahaha...
Ibu Lauren meminta kami semua untuk membuat sebuah tulisan mengenai pandangan kami secara pribadi sebagai mahasiswa terhadap pembinaan guru-guru di Indonesia. Semoga bermanfaat :)