Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan

0 Ratap.

29 November 2014
Sunyi mengoyak gendang telingaku, pekak!
Sudut kegelisahan merajai tahta durasi, sesak!

Sendiri aku sendiri meratapi getirnya rasa takut yang menyeruak.
Gergaji pilu mencabik-cabik jiwa tanpa ku mampu mengelak.

Jahanam kau, hantu-hantu sepi!
Kusumpah kau tersesat dalam arus reinkarnasi, nanti.

Jauhlah. Jauh sejauh-jauhnya enyah dariku.

Sepi, kusumpahi kau mati!

Sunyi, kukutuki kau mandul elegi.

Supaya tak lagi hantu-hantu bernyanyi menakuti.
Di sini, pada jiwa yang sedari dulu, sepi.

(Nangbidok, 301114)

0 Ironi Masa

23 Oktober 2014
Terselip rindu di  setiap mikron detik waktu
Menyusupi celah-celah durasi yang mencekikku sesak
Lama
Hari-hari terasa lama
Tanpamu
Bilakah ku dapat segera mengecup lembut kening itu
Bilakah ku segera mendekap hangat tubuh yang kedinginan, di sana, di sudut keluguannya
Aku teriak pada malam
Malam tak menyahut
Aku teriak pada hujan
Hujan pun menangisi tanahnya
Angin maukah kau mendengar keluh yang kulabuhkan pada samudra rindu?
Angin bisu
Semua tak seromantis sedia kala
Aku kembali pada penantianku
Ruang sepi penuh hampa
Kesenyapannya memekakkan telinga
Aku hilang dalam durasi yang fana ini
Terhilang
Menitikkan bulir-bulir air mata
Histeris tragis
Jiwaku teriris
Aku berharap masa akan menjaga rasa
Rasaku yang selalu terselip dalam setiap hembus nafas melalui detik per detiknya waktu
Dan durasi
Selalu membawaku padamu
Dalam diam
Dalam kenangan
Dalam harap
Dalam keabadian
Masa pasti jaga rasa
Masa pasti akan abadikan rasa
Selamanya
Medan, 241014, 02.10
Oleh: Putri (Nangbidok)

1 Hanya Sejenak

4 September 2014
Sejenak saja aku ingin mencumbui aroma tubuhmu. Sejenak. Hanya sejenak. Aku ingin dekatmu. Memeluk dengan tatapan hangat penuh harap. Rajai mimpi bersamamu, sejenak. Hanya sejenak.

0 Kita Adalah Jiwa

Aku tak pernah peduli siapa, apa, dan bagaimana kita. Yang kutahu bahwa kita adalah sejiwa. Kita adalah jiwa-jiwa yang terpaut dalam satu rasa. Membakar habis ketabuan dogma dengan sebuah harap. Membumbung tinggi ke tahta langit bersama dengan cinta. Terperangkap, hampa. Tak bermakna sebab kita adalah jiwa-jiwa yang terpaut dalam satu rasa.
Oleh: Putri (Nangbidok)
040910

0 Kekasih.

21 Agustus 2014
Kekasih, demi rasa rindu yang kuendap dalam darahku, kucari warna indah senyumanmu dalam imaji. Kegaiban cinta merasuki sekujur tubuh, lalu aku patuh pada setiap lirihnya sepi, Kekasih.
----
Kucari hatimu dalam ritmis air hujan, menggenang. Lalu aku gelisah dan air mataku tumpah ruah. Dalam langkah yang papah, aku tertatih, terseok, menilik sepotong kisah yang terbungkam. Lama, lama sekali.
----
Kekasih, aku menemukanmu dalam sunyi. Ketika malam semakin legam, ketika matahari berdiam.  Di sana aku hidup dalam imaji. Bersamamu, di ruang hati yang sepi.
----
Ajari aku mencintai tanpa pamrih. Seperti kau yang selalu menanti di ujung simpang. Berdiri, tanpa sesuatu yang pasti. Di sana, di ujung simpang yang semakin sepi.
----
Kekasih, lantunan doa adalah kekuatan. Ajarkan aku mendamba dalam sebuah iman. Bahwa aku pasti milikmu. Sekalipun kau bukanlah pilihan. Aku tetap ingin mendamba.
----
Di sini, rasa rinduku mendidih. Kesabaranku seperti akan mengeluarkan lavanya. Ingin kucuri tubuhmu dari pasungan tata krama, biar kita berpesta dalam cinta. Saat itu, cahaya pasti akan menyeringai. Riang ria, berbahagia bersama kita.
----
Kekasih.
Medan, 220814
Oleh: Putri (Nangbidok)

1 Pendakwa!

Jika mencintai adalah dosa, untuk apa ada rasa?
Jika berzinah adalah hina, untuk apa ada gairah?
Jika neraka adalah duka, untuk apa ada karma?
Jika menikah adalah ibadah, untuk apa ada pe es ka?
Hidup ini adalah parodi tawa.
Penuh lelucon-lelucon sampah.
Aku mencintai dirimu, dan itu dianggap menjijikkan.
Menjijikkan, lebih dari sampah.
Jika sampah memang tak berguna,
Untuk apa orang-orang miskin mengais-ngaisnya dengan penuh peluh?
Tidakkah dunia ini benar-benar lupa.
Bahwa norma hanyalah milik para pendakwa?
Bukan milik manusia pendosa.
Mendakwa, hanya mendakwa.
"Kau, bersalah!"
"Matilah, kau!"
"Dasar penghuni neraka jahanam!"
Benarkah demikian, sayang?
Kukira, mengasihi adalah kunci utama.
Bukan malah merampas hak-hak sesama.
Jika kita sampah, mereka pun tak jauh lebih berharga dari kita.
Setidaknya kau dan aku masih memahami arti cinta yang sesungguhnya.
Bukan seperti mereka,
Yang berkhotbah, lalu berzinah.
Bertaubat, kemudian bermaksiat.
Atau jangan-jangan kau dan akupun adalah bagian dari mereka?
Pendakwa.
Oleh: Putri (Nangbidok)
210814

2 Sejenak

3 Agustus 2014
Tatap mata beradu
Mata yang tak kukenali asalnya
Jiwa yang tak kusinggahi sebelumnya
Menyengat jantungku seketika itu
Sedetik per sekian mikron waktu
Jantungku berhenti berdegup
Sebuah tatap
Saling membalas
Sebuah senyum
Saling tersimpul
Sebuah cerita
Saling melebur
Ada bunyi-bunyi lainnya
Seperti kupu-kupu yang bahagia karena nektar bunganya
Seperti itulah nada-nada dalam sekujur tubuhku berbunyi
Sebuah rengkuhan
Sejenak menenangkan
Tersentak
Aku mendadak sesak
Sebab kita bukan teman
Bukan juga pilihan
Bukan
Dan selesainya
Aku rindu
Aku merindumu
Berharap waktu akan mendamaikan hatiku
Mempertemukan kita
Pada wujud yang berbeda pula
Aku rindu

0 Kemarin

1 Agustus 2014
Kemarin kita bersumpah bahwa darah adalah mahar bagi cinta
Kemarin kita bermadah bersama dalam sebuah kidung pujian senja
Kermarin kita berserah pada jiwa yang penuh dengan gairah
Sumpah darah, lenyap.
Madah pujian, lenyap.
Jiwa, tak lagi bergairah. Lenyap.
Waktu-waktu hanyalah dusta.
Dustaku mendustai hatimu.
Suka-duka hanyalah cerita.
Ceritaku yang hanya akan menjadi karya.
Jiwa-jiwa tersiksa dalam jeruji norma.
Aku hendak apakan luka ini? Luka kita menyesah raga hingga lemah tanpa daya.
Sumpah darah mestinya tak sia-sia.
Madah pujian mestinya tak terbungkam.
Jiwa kita mestinya bebas dalam rasa, asa, dan cinta.
Keindahan yang mendasar pada hal yang berbeda, istimewa dari yang lainnya.
Keindahan yang mestinya tak dikotori kata dosa. Kata mereka.
Keindahan yang mestinya memiliki hak yang serupa dengan manusia pada umumnya. Cinta yang sama. Cinta.
Kemarin hanya akan menjadi kemarin.
Cerita hanya akan menjadi cerita.
Dusta hanya akan menjadi dusta.
Seharusnya kita kembali bermadah bersama.
Seharusnya kita kembali bersumpah demi darah yang tertumpah.
Seharusnya.
Dan kemarin pun seharusnya tak mesti ada.
Atau...
Semestinya tak pernah ada kini!
Hingga kemarin akan selalu menjadi hari ini.
Oleh: Putri (Nangbidok)
Medan, 020814

0 Dunia Bayang-Bayang

Hanya melodi yang keluar dari tuts-tuts piano itu. Serangkaian nada yang hingga saat ini masih membawaku kepada mimpi yang tertunda. Kenangan itu, mendadak menyapa.
Di tengah pekatnya malam aku berbisik pada awan, aku mencintainya. Sampaikan padanya bahwa aku belum mampu menyerah pada realita. Kebahagiaanku hanya sebatasmu, awan. Bersamanya, bahagiaku terlihat namun tak tergapai. Sepertimu, pekat malam tak menjauhkan kau dari langit itu. Kau tampak, namun tak nyata. Kau tak ada. Awan, bahagiaku selayaknya dirimu.
Mengapa ada jika tak terjamah? Mengapa indah jika akhirnya kau menghitam? Lalu? Kau menangis? Hujanmu bukti bahwa kau rindu pada bumi. Begitupun airmataku. Aku menyerah pada asalku. Cintaku indah, kemudian perlahan menghitam. Dan tangisan adalah akhirnya.
Di sini, aku masih bersama dengan melodi-melodi indah itu. Mereka masih mengalun, menghipnotisku. Merasuk hingga ke seluruh nadi. Aku kalah! Aku menangis, kemudian menyerah pada bumi, asalku.
Awan, sampaikan salamku padanya. Jangan minta dia untuk memaafkanku, aku tak layak. Biarlah aku menyapa indahnya melalui bayangan saja. Hanya bayangan. Biarlah aku memeluknya dengan cinta. Sekalipun hanya bayangannya saja. Bahagiaku memang seperti awan. Indah, tak terjamah. Ada namun tiada.
Hanya melodi dari tuts-tuts piano itu yang menjadi teman setia. Di sana, ada kita. Sekalipun aku menyerah pada bumi asalku. Aku tetap mencintainya melalui nada. Biarlah realita menelan segala yang asa, aku tetap untuknya.
Dalam dunia bayang-bayang, di sana aku akan bebas membahagiakannya. Sekalipun aku teringat pada bumi, asalku.
Dan kini relakan aku yang harus pergi. Sejenak meninggalkannya di sudut sepi. Sebentar saja, sebentar saja. Istirahatkan dia dalam lelahnya, awan. Nanti aku pasti kembali menyapa dia. Di sana, di dunia kami berdua. Hanya aku bersama dengannya, di dunia yang tak terjamah, dunia bayang-bayang.
Oleh: putri (nangbidok)
(Medan,020814)
*selalu ada rindu untuknya yang selalu setia menanti dalam dunianya, dunia bayang-bayang*

0 Rasa Rindu

29 Juli 2014
Apa kabar kamu yang dulu sempat menjejak di hatiku? Sudah berdamaikah kamu dengan seluruh dimensi alam dan waktu? Sesuatu yang ingin kuungkap adalah bahwa aku merindumu.
Di sini, sesekali aku masih berharap dapat berkelakar denganmu. Sekalipun semu, bayanganmu itu obat rindu. Senyum itu. Senyum itu yang dulu pernah menjadi antibiotik kala ku pilu.
Seandainya mesin waktu dapat kucuri dari para penduduk bawah tanah, akan kutelusuri masa-masa dahulu. Bilakah ku dapat kembali menggenggam lembut jari-jemarimu? Bilakah ku dapat merasakan hangat nafasmu? Bilakah kudapat mencium wewangian khas dari tubuhmu?
Sesekali aku merindumu. Sesekali aku menangis haru. Sesak aku di sudut waktu. Aku terbawa arus, jauh semakin menjauhimu. Di mana lagi kita akan bertemu?
Waktu tak berujung. Alam tak berbatas. Masa lalu jua takkan pernah lenyap. Pun kamu, akan abadi di sana. Di waktu yang tak berujung. Di alam yang tak berbatas. Di sana, rumahmu. Masa laluku. Di sana, tempatmu. Rasa rindu.
Oleh: putri (nangbidok)
Medan-290714