Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

1 Kalau Masih 'Galau', Berarti Akalnya Belum Sehat

29 November 2014
"Anjing!"
"Kau yang anjing!"
"Setan!"
"Cuih!"
"Apa? Menantang kau?"
"Diam, biadab!"
"Berhenti memaki!!! Kalau tidak akan kuhabisi kau."
"Nah, habisi saja!"
"Kau... Argggghhhh!"
"Kenapa tidak jadi? Lakukan saja! Tidak berani?"
"Taik!"
"Hei... Mengapa lari? Hei... Selesaikan dulu ini."

Akankah kita menyangka bahwa perseturuan itu dilakukan oleh sepasang kekasih yang pada 20 jam lalu masih memadu kasih? Hubungan yang boleh dikatakan cukup matang karena sudah terjalin selama 5 tahun.Tidakkah ini sesuatu yang sangat membingungkan? Perjalanan yang tidak sebentar itu harus berakhir dengan sebuah perseturuan yang dihujani cacian dan makian. sungguh ironis.

Aku tak paham mengapa banyak sekali hal berlalu dan berubah begitu cepat. Sungguh, terlalu cepat. Hingga tak ada jeda untuk mempersiapkan diri menghadapi setiap keadaan yang berbanding terbalik dari sebelumnya. Aku pernah mendengar kisah tentang seorang suami yang menceraikan istrinya karena tak lagi memiliki tubuh yang molek. Ada pula kisah mengenai seorang istri yang menceraikan suaminya karena mulai mengalami ejakulasi dini. Merasa tidak terpuaskan, sang istri akhirnya berselingkuh dan menggugat cerai suaminya.

Aneh. Dunia memang benar-benar sudah gila. Wanita yang baik ketika berhadapan dengan seorang lelaki yang mengecewakannya, ia langsung mengutuki semua lelaki yang ada di muka bumi ini. Segala sumpah serapah dan amarah ia tumpahkan di segala jenis media sosial; facebook, twitter, friendster, BBM, dan lainnya.
"Dasar laki-laki! SEMUA samaaaaaaa aja! Buaya darat."
Untung saja Meggy Z sedang tidur, kalau tidak beliau pasti akan memberontak dengan lagu andalannya; tidak semua laki-laki i i i~~~
Hahaha.
Dan seorang pria yang sedang patahati karena dikecewakan pasangan wanitanya pun merasa bahwa wanita adalah 'Racun Dunia'. Menuduh semua wanita sama saja. Lalu kemudian menangis sambil menyanyikan lagu Changcutters; Wanita... Racun duniaaa~~~

Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa selalu bias? Sama seperti kondisi pertikaian di atas. Hubungan yang terjalin lama akhirnya rusak oleh karena sebuah masalah yang terjadi mungkin hanya menyerang beberapa menit saja. Adilkah jika kenangan bersama selama bertahun-tahun itu harus rusak karena satu permasalahan yang muncul sekali ini? Mengapa bias? Kemarau setahun terhapus oleh hujan sehari. Apakah tidak ada lagi toleransi bagi masalah yang terjadi sehingga harus memutuskan untuk berpisah? Apakah otak sudah terlalu mendidih sehingga hanya caci maki saja yang keluar seolah-olah usaha dalam pemecahan masalah? Ini benar-benar tidak adil.

Mengapa tidak mengingat kembali saja masa-masa indah saat pertama kali jatuh cinta? Tidakkah itu indah? Mengapa memutuskan untuk burusburu berpisah? Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Selalu ada jalan keluar untuk sebuah hambatan. Pasti ada. Ditunggu saja.

Jangan mau menjadi manusia musiman. Terlalu mudah berubah dan bertindak sesuai musim; keadaan. Bertindaklah hati-hati. Jangan mudah mengambil keputusan saat hati sedang panas. Ambil waktu untuk mengkoreksi diri sendiri dulu, agar tercipta pemikiran dan pertimbangan yang sehat. Agar dampat dari keputusan yang diambil pun sehat-sehat juga.

Kalau masih sakit hati dan 'galau', berarti belum sehat. Keputusan tersebut masih diproduksi oleh akal yang sakit. Sehatkan segera pikiran dan akal. Yakin bahwa akan selalu ada penyelesaian yang menyelesaikan. Bukan malah menambah daftar masalah yang harus dicari penyelesaiannya.

Tulisan ini pun mungkin masih akan menjadi sebuah tulisan dan menjadi pertingatan juga bagiku. Sebab akupun masih sama dengan manusia kebanyakan, gegabah dalam menetapkan keputusan.

Semoga kita dapat sama-sama belajar menghargai sebuah proses dan bersabar menanti hasil yang baik pada waktu yang baik pula. Tuhan memberkati.

Medan, 230814
Oleh: Putri (Nangbidok)

0 Aku Enggan Pulang

10 Oktober 2014
Sudah hampir enam jam lamanya aku menyusuri jalanan kota ini tanpa arah tanpa tujuan yang jelas di mana akan kuhentikan sepeda motorku ini. Kulirik sesekali ke arah kaca spion sebelah kanan dan kusaksikan wajahku sangat kusam penuh debu. Wajahku yang memang sudah hitam legam tampak semakin pekat tertutup lapisan debu dan kotoran akibat dari perjalananku yang tiada ujungnya ini. Sudah dua kali aku mengisi bensin sepeda motorku dan tiada jua aku puas dengan hasil perjalananku kali ini. Aku belum ingin pulang. Pesona jalanan ibu kota masih memikat hatiku dan memberikanku rasa ramai yang menghibur dari rasa sepi dan kalut. Aku melihat sekeliling dan terus menikmati suasana ramai dan bebas. Aku bebas. Jiwaku menari-nari menyusuri kemacetan dan riuhnya kendaraan pribadi yang membludak. Di sudut jalan tampak seorang anak dengan tangan menengadah mengharap belas kasih dari pengguna jalan. Ada pula sekelompok anak muda yang bernyanyi dengan gitarnya dan kemudian mengusungkan bungkusan plastik bekas permen. Tak jauh dari pemandangan itu, kulihat seorang ibu yang duduk memelas di pinggir trotoar jalan sambil menidurkan bayinya yang kurus di atas sebuah kain gendongan. Sementara di sampingku, sebuah mobil mewah keluaran terbaru melintasi jalanan yang sama dengan seorang ibu, sekelompok pengamen, dan anak yang mengemis tadi.

Aku masih berkeliling di tengah kesemerawutan ibu kota ini. Aku belum mau pulang. Aku masih terpesona dengan sihir jalanan yang ramai. Sebab aku benci sepi. Sepi bukan temanku, ia musuhku. Di tengah keramaian seperti ini, keceriaan menghampiriku. Dan aku kuat. Keceriaanpun ikut membuntutiku kemanapun aku menyusuri jalan demi jalan yang kupilih untuk kulintasi. Aku kuat di tengah keramaian, sebab ia temanku. Ramai membuatku hidup.

Hampir seluruh sudut kota ini telah kulintasi. Sendiriku. Sampai-sampai aku hapal dengan setiap letak dan waktu-waktu saat petugas aparat keamanan sedang melakukan razia. Aku hapal gerak-gerik mereka yang siap memangsa para pengendara. Aku hapal itu dan berkali-kali aku lolos sebab aku tak punyai surat izin untuk mengemudi. Tapi aku tetap melintas dengan hati yang gembira, sebab ramai itu temanku. Aku kuat di tengah keramaian.

Pesona jalanan yang ramai membuatku enggan pulang. Sebab aku berteman dengan ramai dan membenci sepi. Jam telah menunjukkan pukul lima sore. Langit terlihat pucat dan tampat matahari yang mengintip genit dari balik gumpalan awan. Seketika itu aku merasa sedih. Sebab aku berteman dengan ramai dan membenci sepi. Sudah saatnya aku pulang. Aku harus pulang dan menghamba pada sepi, musuhku.

***

"Assalammualaikum. Bu, aku pulang."
Belum ada sahutan dari dalam rumahku. Tampaknya monster itu belum mendengar salam dariku. Ah, biarkan sajalah yang penting aku sudah melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhanku kepadaku. Saat hendak memasuki sebuah rumah, ucapkanlah sebuah salah. Aku patuh padaNya karena Dia mengasihiku.

Kulangkahkan kakiku memasuki dapur sebab aku merasa lapar. POKKK!!! Mendadak aku merasa pandanganku berkunang-kunang. Sebuah benda keras membentur kepalaku. Sakit sekali sampai-sampai penglihatanku kabur. Seseorang pasti telah melemparkan benda keras tersebut. Sebuah asbak. Ternyata benda keras yang menghantam kepalaku adalah sebuah asbak. Yang melemparkannya pasti adalah seorang monster yang sangat mengerikan. Siapa lagi yang tega berbuat demikian kalau ia bukan seorang monster.

"Dari mana saja kau binatang!?"
Oh, ternyata benar bahwa yang melemparkan asbak tadi adalah seorang monster. Monster yang parasnya sudah kuhapal betul. Juga rasa tangannya yang berkali-kali menempel di pipiku. Seperti bukan manusia aku selalu dihajar dan dipukuli tanpa sebuah alasan yang jelas. Dua puluh dua tahun aku disiksa baik fisik dan psikis. Bathinku remuk dan jiwaku hancur. Sakitku sudah berkarat. Rumah bukanlah tempat peristirahatan untuk meletakkan rasa lelah, Tubuhku selalu bergetar tiap kali mendengar kata rumah. Rasa gemetar ini timbul karena aku merasa sangat ketakutan. Aku benci rumah sebab aku benci sepi.

Miris rasanya harus tinggal serumah dengan sesosok monster yang menegrikan. Ibarat harimau lapar ia selalu berusaha ingin menerkam dan mengganyang aku sampai habis. Jam-jam yang kulalui di dalam rumah terasa sangat lama dan menyiksa. Aku sepi terkurung dalam rasa kalut ini. Aku tersiksa dengan rasa takut yang menggerogoti setiap inci syaraf dan otakku. Aku hampir saja gila mengikuti jejak monster itu. Tapi sesungguhnya aku tak ingin gila sebab aku membenci sepi. Pesona jalanan selalu memanjakan aku sebab jalanan itu ramai. Dan aku berteman dengannya.

***
Pagi kembali menyapa. Terang memanggilku dengan tawa. Aku bangun dan bergegas keluar dari neraka ini; rumahku. Kembali lagi kususri jalanan ibu ota yang berliku. Tanpa arah, tanpa tujuan, hanya menikmati pesona jalanan yang ramai. Sebab mereka sahabatku dan sepi adalah musuhku. Aku enggan pulang. Aku tak mau kembali ke neraka di mana monster yang menakutkan itu tinggal. Di sana hanya ada rasa takut, cemas, gemetar, dan siksa. Aku sepi di sana sebab itu aku enggan pulang dan aku masih betah menikmati pesona jalanan. Meskipun harus melintasi jalanan yang itu-itu saja tanpa arah dan tujuan, aku tetap bahagia. Sebab aku merasa ramai, aku merasa bebas. Di sini tidak ada ketakutan, tidak ada rasa sepi. Semua ini adalah temanku sebab mereka adalah ramai. Teman, aku enggan pulang.

Medan, 10 Oktober 2014
Oleh: Putri Amelia (Nangbidok)

3 Syra.

29 Agustus 2014
Sejenak Syra tertegun memandangi lelaki berkulit putih pucat yang melitas di hadapannya. Lelaki itu tampak misterius dengan segala apa yang dikenakannya. Mulai dari jaket kulit, kaos v-neck, celana jeans, sepatu, gelang, dan anting bulat yang menempel pada telinga kirinya, semuanya berwarna hitam. Lelaki itu memiliki kaki yang jenjang dan badan yang tidak terlalu gemuk, juga tidak terlalu kurus. Tidak tampak otot yang menonjol, semua biasa-biasa saja. Rambutnya tampak rapi dengan potongan spike. Sepertinya lelaki itu sudah cukup dewasa.
Lelaki itu mengambil posisi duduk di pojok ruangan. Lengkap dengan kopi hitam pekat yang baru saja dipesannya tadi saat tak sengaja melintasi Syra yang sedari tadi mengamatinya dengan rasa penuh antusias. Syra tampaknya semakin penasaran dengan lelaki itu. Setiap detil gerakan lelaki itu diperhatikannya tanpa berkedip. Tak satupun Syra hiraukan, termasuk kopi yang ada dihadapannya, berubah semakin dingin. Tak sempat diseruputnya cairan kental pahit kesukaannya itu karena terlalu asik memandangi lelaki misterius yang duduk tepat di hadapannya.
Dengan rasa setengah tak yakin, Syra pun menghampiri meja lelaki misterius berkostum hitam-hitam itu.
"Excuse me. May I sit here?"
"Oh, sure. My pleasure, miss."
"Thank's. I'm Syra. How do you do?"
"How do you do, Syra. I'm Zuo."
"Are you waiting someone?"
"Yes. I'm waiting my soul."
"Are you kidding? Soul? By the way, where are you from, Zuo?"
"I'm from somewhere can't be seen by."
Zuo mengambil jeda sambil menghela nafas panjang. Lalu menyeruput kopi hitam pekat di hadapannya.
"I'm seeking the loosing soul. I have to bring it back. To my palace."
Dada Syra mendadak sesak. Rasa penasaran ini semakin mengacak-acak bathin Syra. Ada rasa penasaran yang tak biasa. Jantung Syra mendadak berdetak kencang, nafas Syra terengah-engah. Syra keringat dingin. Sekujur tubuh Syra mendadak membeku.
Zuo diam. Syra pun diam. Wajah Zuo menggambarkan ketegasan. Syra tunduk seperti ada rasa kalah. Rasa apa ini ia pun tak paham. Zuo menatap tajam ke depan tanpa isi. Tatapan Zuo kosong. Lelaki itu mematung dan tak bergerak sama sekali. Dingin. Syra semakin menggigil dibuat rasa kacau yang menumpuk dalam jiwanya seketika itu. Ada sesuatu yang tak dapat dijelaskan. Sesuatu yang sangat mengusiknya.
Aku datang. Aku mencari jiwa yang sepi. Aku datang, mencari-mu.
Ada suara-suara aneh yang berbisik di telinga Syra. Semakin kuat dan semakin kencang. Lama kelamaan terdengar seperti teriakan-teriakan histeris hingga kalimat tersebut tak terdengar jelas. Mereka ramai.
"Diaaaaaaammmmmmm!!!!!!"
Syra teriak dan menghentakkan meja sekuat tenaga. Semua mata tak luput dari kejadian itu. Semua mengamati dengan cara mereka masing-masing. Zuo masih bungkam. Zuo tak tampak cemas.
Syra semakin histeris dan menjambak-jambak rambutnya. Mari, kembalilah pulang. Putri kegelapan, kembalilah pulang. Kerajaanmu adalah kerajaan Hitam. Rakyatmu menantimu, Putri. Segeralah sempurnakan reinkarnasimu. Jangan sesatkan jiwamu pada wujud aneh ini. Ini bukan tempatmu, kembalilah. Kembalilah.
"Syra."
"Ya?"
Percakapn itu terputus hanya sampai di sana. Mendadak semuanya menjadi gelap. Hitam, pekat. Tak ada meja-meja dan kursi. Tak ada kopi. Tak ada 'coffee shop' dan keramaian. Tak ada suara riuh, hening. Tak ada manusia seperti wujud Syra. Tak ada apapun. Namun seperti ada yang mendengung. Lengang. Senyap. Syra tak kuasa mengontrol rasa takutnya. Ia pun berteriak semakin kencang dan kencang. Ia meronta-ronta tetapi suaranya mendadak hilang. Kedap. Semuanya hampa.
***
"Syra, ini kerajaanmu. Selamat kembali pulang, Syra. Selamat datang."
"Zuo, aku..."
Syra pun diperlakukan sebagai seorang Putri Raja. Segala keperluannya dilengkapi. Semua penghuni di sana tampak aneh. Ada yang bertanduk tetapi berjalan dengan tiga kaki. Ada yang berbulu lebat tetapi hanya memiliki mulut, tanpa mata dan hidung. Ada yang bertubuh sangat mungil dengan kepala yang sangat besar. Ada yang berjalan pincang tanpa tangan. Ada yang sekujur tubuhnya basah dengan cairan yang mirip seperti air liur monster.
Apakah mereka alien? Atau apa? Apa mereka hantu? Pikir Syra. Syra pun tak yakin benar.
***
Semua tampak aneh. Seluruh ruangan  hitam dan gelap. Tapi Syra dapat melihat segala makhluk yang ada di sana. Syra dapat melihat mereka, yang berwujud namun tak berwarna. Bukan dengan mata. Bukan. Sebab tak ada cahaya di sana. Syra melihat dengan sesuatu yang lain. Berbeda. Melihat dengan cara merasakan. Syra sendiri pun tak paham. Tapi Syra melihat. Melihat dalam kesenyapan. Sepi. Lengang. Tapi Syra tetap melihat. Bukan dengan mata, tetapi dengan sesuatu yang lain. Tak ada bentuk yang konkret. Mereka tampak hanya seperti sebuah pola. Kosong. Tanpa bentuk yang nyata. Absurd dan tak berwarna. Hampa dan kosong. Terlalu sulit untuk dijelaskan menggunakan kata-kata. Bahkan surat para pujangga pun tak dapat mewakili penjelasan yang Syra rasakan.
"Ini Kerajaan Hitam, Putri Syra."
"Iya, Putri. Kami sudah terlalu lama merindukan kembalinya Putri Syra ke sini."
"Hidup Putri Syra. Sembah Putri!"
"Hidup!"
Suara riuh gemuruh pecah memenuhi ruangan itu. Ruang hitam pekat tanpa warna. Tempat ini menyeramkan. Tapi tampaknyaSyra mulai terbiasa dengan perbuatan baik para penghuni Kerajaan Hitam. Dia mulai mengaminkan bahwa benar ia adalah seorang Putri pemimpin Kerajaan Hitam. Syra mulai terbuai dengan segala pelayanan dan kuasa yang berada dalam kedua genggaman tangannya. Keinginannya maka itu perintah bagi makhluk penghuni Kerajaan Hitam. Kemana Zuo? Zuo tak tampak. Sudah lama sekali. Bahkan Syra tak tahu persis berapa lamanya waktu yang dihabiskannya di situ tanpa Zuo. Tak ada waktu. Tak ada cahaya. Tak ada lama dan sebentar. Hanya rasa puas yang ada di sana. Dan Syra mengangungkan rasa puas itu. Padahal tak ada apapun di sana. Hanya makhluk aneh yang absurd dan kesunyian.  Syra hanyalah Putri dari Kerajaan Hitam yang diselimuti kesenyapan. Senyap tanpa suara. Hampa. Tetapi Syra bahagia.
***
"Bagaimana? Sudah ada kabar?"
"Belum."
"Sudah 10 tahun, Syra menghilang. Tak ada tanda-tanda apapun."
Dan sampai sepanjang usia bumi habis pada masa kesudahannya pun Syra tak kunjung kembali. Syra menghilang. Seluruh kerabat Syra hidup dengan kecemasan dan sejuta tanda tanya sepanjang waktu mereka. Apa yang terjadi dengan Syra. Gadis itu tiba-tiba menghilang. Syra lenyap dari muka bumi. Tanpa jejak sama sekali.
Syra bermain terlalu jauh. Ia melintasi perbatasan wilayah. Di sana, di dunia yang gelap. Kerajaan Hitam. Syra betah dan jiwanya tertawan oleh rasa nyaman yang membuainya. Hingga kini, Syra tak pernah kembali. Ia abadi. Dalam Kerajaan Hitam. Tanpa warna. Tanpa cahaya. Gelap. Hitam. Pekat. Tak ada apapun, selain hanya kepuasan. Syra hidup. Tetapi mati. Syra menghilang dan tertawan.  Selamanya.
Oleh: Putri (Nangbidok)
Medan, 290814

2 Karena Bahagia Itu Sederhana

22 Agustus 2014
Karena bahagia itu sederhana.
Sepasang kekasih di sudut taman sedang tertawa lepas dan memancarkan rona bahagia di wajah mereka masing-masing. Sekilas tak ada yang spesial dari pemandangan ini. Namun, aku sendiri pun semakin ikut tersihir dengan rasa bahagia yang mereka miliki. Seolah-olah angin ikut menebarkan kebahagiaan mereka yang meluap-luap ke sekitar wilayah taman.
Kulihat sebuah pohon cemara besar yang cukup rimbun memayungi mereka dari terik matahari yang menyengat siang itu. Mereka duduk bersila dan saling berhadapan di atas sebuah bangku tua berwarna coklat dan berbahan besi yang sebagian besinya sudah berkarat. Warna cat coklat bangku tua itu juga  tak jauh berbeda dengan warna karat yang menutupi sebahagian bangku. Sehingga tak terdeteksi mana bagian karat yang seharusnya dihindari mana yang tidak. Sebab kata guru biologiku dulu karat akan berbahaya bagi kesehatan kulit.
Dalam hati aku bergumam. Lelaki itu pasti tidak cukup modal untuk membawa kekasihnya kencan di restoran mahal. Dasar lelaki tidak bertanggung jawab! Ini lagi, wanita ini terlalu bodoh. Mengapa mau hanya diajak duduk di sebuah taman seperti ini. Ini pasti wanita murahan yang bisa diajak berkencan hanya dengan modal 'cinta' dan 'makan angin'. Benar-benar sepasang kekasih yang aneh! Darimana mereka memperoleh sumber tawa itu? Apanya yang membahagiakan? Ini malah menyiksa. Pacaran itu semestinya ya di kafe, lounge, setidaknya ke tempat yang lebih baik dari ini. Ini apa, taman? Hah! Mereka pasti masyarakat golongan rendah. Iya, itu sudah pasti. Mana level orang-orang kelas atas seperti aku ini berkencan di taman seperti ini. Hahaha. Gengsi lah, ya.
Kupandangi pakaian yang mereka pakai, hanya kaos dan celana jeans. Tak ada yang spesial, mereka pun hanya mengenakan sendal jepit. Tak ada gadget yang canggih di tangan mereka, yang pada umumnya dipegang oleh orang-orang kebanyakan saat sedang duduk di manapun. Entah untuk mebalas pesan, entah untuk browsing internet, ataupun hanya sekedar pamer kepada sekitar dan mengotak-atik tak karu-karuan seluruh aplikasi yang tersimpan di dalamnya tanpa tujuan yang jelas. Sepasang kekasih ini tak tampak memegang alat canggih apapun. Tak ada tas mahal KW-Super di dekat wanita itu dan tak ada jam tangan yang mencolok dari tangan lelakinya. Dasar orang susah. Modal cinta saja bisa betah panas-panasan di taman. Aneh.
Lihat-lihat! Air mineral. Mereka hanya meneguk air mineral kemasan. Tak ada cemilan, hanya air putih. Air putih? Gila. Hahaha. Lucu sekali, pacaran modal air putih. Ini lucu! Lucu!
Mereka tampak mesra dan bahagia. Aku rasa mereka lebih pantas dianggap sepasang sahabat, sebab mereka terlihat 'asik' dengan beberapa candaan yang mengundang tawa di bibir mereka masing-masing. Kalau si wanita sudah tertawa, dia akan memukul-mukul manja lengan kekasihnya. Dan sesekali lelaki itu mengecup dahi kekasihnya yang tertutup poni. Adegan yang hampir mirip di film-film Korea. Jujur, aku tak suka. Kukira itu adalah film pembodohan. Membuai para pencintanya untuk berkhayal sesuatu yang sangat mustahil terjadi. Aku selalu merasa geli kalau adikku dan para sahabatnya berteriak-teriak histeris membicarakan jalan cerita film drama korea yang baru saja mereka saksikan.
Dua jam berlalu. Sepasang kekasih yang kuamati dari tadi masih saja berkelakar mesra. Mata mereka pun masih berbinar-binar. Saling menatap. Seolah ada pesan yang mereka sampaikan melalui hati ke hati. Mereka bertatapan lama, wajah mereka semakin mendekat. Si wanita mulai memejamkan mata sambil membuka sedikit bibirnya. Eh, eh, eh, ada apa ini? Eh? Masa aku harus mengamati mereka ber... PLAKKKK!!! Kekasih wanita itu menjitak dahinya yang tertutup poni lalu tertawa-tawa puas. Mereka pun akhirnya saling tertawa. Sejujurnya kalau untuk yang ini akupun ikut tertawa juga. Ini adegan yang sangat lucu menurutku. Karena merasa malu, si wanita menggelitik pinggang kekasihnya, lalu mereka pun berlari-larian saling mengejar satu sama lain.
Cara pacarannya 'jadul', ih! Lebay... Dasar masyarakat kelas bawah. Norak!
Tampaknya mereka kelelahan. Akhirnya si wanita memberi kode kepada kekasihnya, ia meminta pulang. Mereka bangkit dari bangku taman dan bergandengan tangan mesra sambil berjalan menyusuri rerumputan dan bunga-bunga yang indah. Tanpa mereka sadari pun mereka melewati aku yang sedari tadi mengamati kebahagiaan 'aneh' mereka. Wajah mereka tetap tidak terlepas dari senyuman malu-malu. Ya, seperti inilah kalau sedang kasmaran. Mabuk karena cinta. Cinta yang kerrr... re. Ah?
Aku tersentak! Gumamku tadi terbata dan terputus tiba-tiba. Aku dikagetkan dengan apa yang baru saja kulihat. Kalian tahu? Kalian tahu? Mereka memasuki sebuah mobil sport mewah. AUDI R8 V10!!! Dan langsung melesat jauh. Aku terpelongo memandangi pemandangan barusan. Sangat mengagetkan.
Aku yang sedari tadi hanya duduk ber-AC di salam mobil Avanza milikku, tertunduk malu telah terburu-buru menilai sepasang kekasih tadi. Memandang cinta yang murni dari sebuah kemewahan dunia. Aku salah besar mengenai ini.
Aku benar-benar merasa tertampar dengan pelajaran yang kudapat siang ini. Ternyata bahagia itu sederhana. Ya, bahagia itu sederhana.
Akupun semakin tambah kesal dengan kekasihku yang sedari tadi kunanti tak kunjung datang. Mendingan pergi saja. Punya kekasih 'kaya-raya' , tapi tidak memiliki waktu luang untuk hanya sekedar makan siang saja. Ini sebuah ironi. Akupun segera beranjak dari taman itu. Menyusuri jalanan ibu kota yang macetnya luar biasa. Apalagi di jam-jam makan siang seperti ini.
Medan, 230814
Oleh: Putri (Nangbidok)

6 Bayangan Cantik

15 Agustus 2014
23 Maret . 11.30 WIB
Sayang, jangan lupa obatnya diminum ya. Ntar malem mau dibawain apa? Kamu istirahat yang cukup, jangan banyak gerak dulu. Aku masih di kantor, sebentar lagi keluar makan siang sama Heri. Sampai ketemu nanti malam sayang. Love you!
"SMS dari siapa, sayang?"
"Oh. Enggak. Ini, anu."
"Roy? Kenapa ngga dibales? Bales aja. Ngga apa-apa."
"Ntar aja deh."
"Yaudah, sekarang kita kemana?"
"Ngopi, yuk!"
***
23 Maret . 20.30 WIB
"Halo, yank"
"Yank, bukain pintu. Aku udah di depan."
"Iya, sayang. Sebentar aku suruh Bi Jum."
Roy, lelaki tampan ini adalah kekasihku. Sangat tampan dan juga sudah cukup mapan. Yang kutahu, dia sangat mencintai aku. Aku kenyang dengan segala perhatian dan cinta darinya. Lelaki yang romantis. Setiap berkunjung, Roy tak pernah lupa membawakanku bunga dan coklat. Boleh kukatakan bahwa ia adalah lelaki idaman hampir semua wanita. Aku bangga memilikinya.
"Sayang, apa kabar? Masih pusing kepalanya? Wah! Anget! Masih demam kamunya."
"Ngga kok, sayang. Aku udah seger gini. Aku sehat, loh!"
"Tadi siang kamu ngga kemana-mana kan, sayang?"
"Ngga sayang. Aku tiduran di kamar aja. Ngga kuat keluar."
"Iya, sayangku. Oh, iya. Aku bawa... ini...!!!"
"Wah mawar!!! Hmmm... thank u babe. Coklat!!! Waaaahaaa..."
"Nih, aku juga bawa ini nih."
"Sop ceker??? Asssiiikkkk!!!"
"Aku suap kamu ya, sayang."
Seperti inilah situasi yang terjadi setiap kali Roy mengunjungiku. Aku diperlakukan seperti ratu. Teramat sangat spesial. Aku merasa sangat diperhatikan. Sebagai wanita, aku tersanjung dengan segala perhatian yang diberikannya. Ya, Roy adalah lelaki yang spesial.
***
25 Maret . 10.00 WIB
"Semalam kemana?"
"Ke dokter. Roy permisi dari kantor."
"Oh. Baik banget ya, dia."
Senyum itu. Dia tersenyum dengan seonggok rasa perih yang tertimbun lama di dalam hatinya. Dia menatapku tajam. Tatapan yang penuh luka. Aku tahu, dia ingin berteriak dengan tangisnya yang tertahan. Aku tahu itu. Akupun begitu. Aku paham dengan apa yang dirasakannya. AKu merasakannya sayang. Aku tahu kau hancur! Aku tahu kau luka! Aku tahu.
"Hey, cantik. Kenapa nangis?"
"Ngga, sayang. Ngga apa-apa. Perih aja mataku. Kemasukan debu, kali"
"Sini aku tiup."
Aku rengkuh dia dengan segera. Kudekap dia sekuat-kuatnya. Hangat. Aku merasakan rasa yang berbeda. Aku merasa aman dan nyaman berasa dalam pelukannya. Aku sangat mencintai dia. Teramat sangat mencintai dia. Bahkan jauh! Jauh dari aku mencintai, Roy.
***
26 Maret . 13.00 WIB
"Cantik. Makan di mana kita?"
"Di tempat biasa aja, sayang."
"Kamu ada kelas?"
"Ada. Tapi ntar jam empat."
"Oke. Oh, ya. Semalem Roy ke rumah?"
"Ngga, sayang."
"Yaudah, yuk sayang. Mobil aku parkir di sana."
"Iya, sayang. Hayuk."
***
28 Maret . 09.00 WIB
"Sayang, nanti siang mau dibawain makan siang apa?"
"Ah, ngga usah. Aku makan bareng Dewi, kok. Lagian masih ada tugas kampus, sayang. Sayang makan sama Heri aja, ya."
"Oh, gitu ya sayang. Oke deh. Bye. Love you my baby Cantik."
"Love you too my baby Roy."
"Yuk, berangkat."
"Iya, sayang."
"Kamu ntar ngga takut dapet E apa, bolos mulu?"
"Ah, ngga sayang. Males aja liat dosennya."
"Yaudah, tapi semester depan udah bisa berubah ya, sayang."
"Hehehe."
Dea langsung mencubit hidungku dan mengecup keningku.
***
08 April. 19.00 WIB
"Sayangku, Dea... kenapa mukanya cemberut gitu, sih?"
Dea hanya tersenyum
Kurengkuh ia. Kubenamkan wajahnya di leherku. Dia menangis.
"Aku sayang kamu, Cantik. Aku sangat menyangimu dengan setulus hatiku. Aku benar-benar mencintai semuanya kamu."
"Iya, sayang. Aku pun demikian. Aku juga benar-benar mencintai kamu. Apa adanya kamu. Semuanya kamu, aku cinta, Dea! Aku cinta."
Malam itu, Dea hanya menangis di pelukanku. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Rasa sakit ini. Terlalu dalam menusuk relung jiwa kami. Aku, Dea, kami saling mencintai. Sekalipun tak pantas. Tapi kami benar adanya dan rasa ini nyata. Dea dan aku adalah aib bagi norma dan realitanya hidup. Orang-orang seperti kami ini tak layak menikmati bahagia kami. Cinta bukanlah anugerah, melainkan dosa. Masyarakat seolah-olah Tuhan. Kami dihakimi, dicerca, dan dikutuki dengan segala sumpah serapah. Yang aku sangat tidak suka adalah bahwa aku dan Dea diberi cap sebagai wanita "Lesbian". Entah bahasa apa itu. Entah dari mana dan apa maknanya, kami pun tak tahu. Yang kami tahu hanyalah cinta dan sebuah rasa yang tak biasa. Kami menyebut ini bahagia. Apa bedanya kami dengan insan lainnya? Kamipun berhak bahagia.
***
Tiga tahun berlalu. Roy melamarku untuk menjadi pendamping dalam hidupnya. Keluargaku dan keluarganya sudah menentukan tanggal baik untuk hari pernikahan kami. Bahagiakah aku? Tidak. Aku sakit. Hatiku hancur dan air mataku berderai dalam bathinku. Senyum palsu yang kulukiskan di wajahku semakin membunuh setiap inci dari jiwaku. Dadaku sesak, penuh, seperti akan meledak. Sekujur tubuhku meriang menahan kesedihan yang kusembunyikan jauh di balik relung ini. Sejatiku adalah wanita. Wanita harus menikah dan berkeluarga. Dan kesejatian ini adalah siksaan jahanam bagi raga dan sukma yang tak bersalah ini.
***
18 Mei . 23.00 WIB
Kurebahkan tubuhku di samping tubuhnya. Dea, wanita ini selalu menjadi surga. Tempat bernaung dan menumpahkan segala keluh. Hanya memeluknya saja, bathinku tenang. Ketakutanku lenyap untuk sesaat. Aku mencintaimu, Dea. Sayangku.
"Aku mencintaimu, Cantik. Sangat mencintaimu. Berbahagialah."
Dea menangis. Ingin sekali kuseka air mata itu. Tapi tanganku sekejap terasa kebas dan kaku. Kondisi ini sangat menyiksa. Sakit sekali.
"Masa depanmu sudah di depan mata Cantik. Selamat atas pernikahanmu. Bulan depan, kamu bukan lagi Cantikku. Kamu takkan lagi untukku. Aku harus tau diri. Iya kan, Cantik?"
Aku terisak dan sesak. Tiada sepatah kata pun kuucap, hanya isakan tangis yang terbungkam oleh kesunyian malam.
"Dea, sayang. De... Ak... Aku... maafin aku. Maafin aku. Aku ngga tau harus berbuat apa. Ibuku berharap aku segera menikah. Aku membawa nama keluarga. Aku ngga tau akan apa jadinya kalau keluargaku tau tentang kita. Maafin aku yang belum sanggup menanggung siksa moral dari cemoohan masyarakat kita. Aku mencintaimu! Sangat mencintaimu! Tapi aku lemah. Apa yang harus kulakukan?"
"Sayang, kamu ngga salah. Ini memang sudah seharusnya. Kamu harus membahagiakan ibumu. Keluargamu takkan pernah mengerti kita. Ketahuilah, aku tetap mencintaimu. Selalu dan akan terus mencintaimu. Aku tetap di sini. Ngga kemana-mana. Aku akan selalu menjadi penghuni dunia bayang-bayang itu. Aku pasti akan selalu setia menjadi bayanganmu. Dimanapun kamu ada, aku ada di disitu."
"Dea... aku takut!!! Aku takut kamu ninggalin aku. Setelah aku menikah kita masih boleh ketemuan, kan??? Aku mungkin akan mati kalau tanpa hadirmu."
"Kan ada Roy, sayang. Dia mencintaimu dengan tulus.  Berbahagialah, ada dua makhluk Tuhan yang teramat sangat mengagumimu dan mencintaimu dengan ketulusan. Berbahagialah, sayang. Jangan nangis lagi."
"Kamu jangan pergi. Aku mohon."
"Iya, aku ngga pergi. Nanti, kamu bebas kapan aja main ke rumah aku. Aku selalu ada buatmu. Kapanpun kamu butuh, aku ada. Aku janji. Udah ah, aku ngga mau kamu nangis. Kan kamu yang ninggalin aku duluan. Hehehehe."
Mungkin Dea benar, aku adalah manusia yang sangat beruntung. Aku dicintai dan dijaga oleh ketulusan dua insan yang berbeda. Tapi seumur hidup aku harus menanggung siksa bathin ini. Setiap kali aku harus bercinta dengan Roy, ada bayangan Dea yang meracuni syarafku. Seketika itu pula aku tercekik dan sesak oleh rasa cinta yang gila ini. Dan setiap kali aku bercinta dengan Dea, bayangan Roy juga selalu hadir dalam ingatanku. Selalu begitu. Bayangan mereka, bayangan mereka selalu saja menghantui kemanapun aku pergi.
***
Bertahun-tahun aku menikah, rumah tanggaku berjalan lancar. Aku dan Roy dianugerahkan 3 orang anak. Kini anakku yang sulung sudah duduk di bangku SMA.  Roy dan aku semakin menua. Kami tidak lagi muda. Roy berhasil membahagiakan aku dan anak-anakku. Keluarga kami sangat harmonis. Aku bangga memiliki suami seperti Roy. Dan seiring berjalannya waktu, aku terlalu fokus pada keluarga kecilku. Tanpa kabar dari Dea. Kukira dia sudah melupakan aku. Akhirnya kuputskan untuk menutup lembaran kisah lama bersamanya. Tapi... ini tidak berarti aku melupakan Dea. Aku ingin tahu kabarnya. Dimana Dea? Sudah seperti apa dia sekarang? Apakah masih ada cinta di jiwanya untukku? Apakah Dea masih menjadi penghuni dunia bayang-bayang itu? Aku sangat merindukannya. Dea... Aku merindukanmu...
***
Mendadak aku ingin tahu kabar Dea. Aku rindu. Sejenak saja aku ingin memeluknya, lalu pergi. Aku ingin mendekapnya, merasakan hangat nafasnya. Aku rindu dia. Dea.
"Halo... Ini bener nomernya Agung?"
"Ya, siapa?"
"Agung! Hey! Ini aku, Cantik. Masih inget aku? Dulu kita sering nongkrong bareng! Aku, kamu, Dea, Alan, Mario."
"Kamu... pacarnya Dea dulu kan? Cantik! Wah dapet nomer aku darimana? Surprise banget kamu nelpon aku! Kamu sanggup yah, nikahan ngga ngundang kita-kita."
"Maafin aku, Gung. Kamu masih sama Alan? Apa kabar Alan?"
"Wah, masih Cantik. Kita tinggal serumah sekarang. Kamu... kamu ngga jengukin Dea?"
"Jenguk? Dea? Ini aku malah mau nanya ke kamu kabar Dea. Dea apa kabar? Dea sakit? Gung, serius!"
"Kamu ngga tau? Pantesan. Udah sebulan Dea di rumah sakit. Koma."
Tuttt...Tuttt... Tuttt...
Dea sakit? Koma? Shit!!! Lelucon apa ini? Mengapa di saat seperti ini aku tidak ada di sampingnya? Dulu, Dea selalu menjadi bayanganku. Menemani aku, kemanapun dan kapanpun, Dea setia. Aku meninggalkannya, dan kini Dea sakit. Aku tidak ada di sampingnya.
***
Innalillahi Wainnalilahi roji'un.
Belum sempat aku melihatnya. Dea pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Semalam saja aku tahu mengenai keadaanya yang koma, Dea langsung pergi begitu saja. Tanpa kecupan, tanpa rengkuhan, tanpa desah nafasnya yang hangat. Dia pergi, tanpa pamit. Dea pergi! Dea meninggal! Dea meninggal!
***
Ini detik-detik tersakit dalam hidupku. Neraka yang sesungguhnya. Kupeluk Jenazah Dea, kuciumi seluruh wajahnya. Dingin. Dea! Deaaaaaaaaaa! Aku berteriak-teriak histeris. Menangis memeluknya. Mengguncang-guncangkan jenazah Dea yang kaku. Berharap ia mendengar dan bangun.
"Dea... bangun!!! Dea!!! Sayang!!! Deaaaaaaaaaaaaaaa!!!"
Kupeluk jenazah Dea yang tak lagi hangat seperti saat-saat dulu. Mata indahnya tak lagi teduhkan aku. Mata itu tertutup dan lenyap untuk selamanya. Dan nafasnya, nafas yang dulu menjadi nafasku. Kemana nafas harum itu? Mana?
"Deaaaaa... bangunnnn... bangun sayaaaaang! Ini aku dateeeeeng peluk kamu. Maafin aku! Maafin aku Deaaaaaa!"
***
"Alaaaaan... bangunin Dea! Bangunin Dea! Aaaarrrrrrggghhh! Bangunin Dea, laaaaaan"
"Udah ya, Cantik. Dea udah bahagia di sana."
"Lan, kasihin ini sama Cantik. Ini titipan Dea yang harus disampein ke Cantik."
Aku menerima sebuah tumpukan album, map, buku harian, dan file suara yang tersimpan di beberapa disc milik Dea. Kubuka lembar demi lembarnya, masih di lembar pertama air mataku sudah tumpah ruah. Banyak tulisan-tulisan Dea tentangku. Setiap hari. Hanya tentang aku. Di sana ada foto-foto ku, lengkap. Ini membuat dadaku seketika sesak! Kutemukan beberapa tulisan;
*
Hari ini Cantikku mengenakan gaun pengantin yang anggun. Bukan denganku. Tetapi aku tetap berbahagia untuknya. Ini cintaku.
*
Cantik kemana? Dia tak jua datang seperti janjinya sebelum menikah. Sudah sebulan ini aku tak mendengar suara riangnya. Hujan, aku rindu cantikku. Bawa dia pulang, Hujan.
*
Aku menguntitnya dari kejauhan. Hari ini kulihat Cantik di halamannya sedang menyiram tanaman-tanamannya. Dia tampak sangat bahagia.
*
Hatiku remuk! Melihat Cantik dipeluk mesra oleh lelaki itu. Tubuh ini kedinginan tanpa dekapannya. Cantik, kenapa kamu lupakan aku.
*
Hari ini aku menemani Cantik berbelanja baju-baju bayi dari kejauhan. Tetap saja dia tak sadar bahwa aku selalu ada di dekatnya.
*
Menjadi bayangan adalah takdirku. Untuk Cantik, aku rela menjadi apa saja. Termasuk menjadi bayangannya. Yang mengawasinya, menemani dalam kesetiaan, namun semu dan tak terjamah. Aku ini bayangan yang selalu menjaganya.
*
Cantik semakin tampak anggun. Membesarkan anak-anaknya yang lucu. Aku masih di sini, hidup salam dunia bayangan yang diciptakannya untukku. Aku selalu menemaninya, seperti janjiku.
*
Aku sakit kanker. Berapa lama lagi aku mampu menjaga Cantikku? Kenapa aku harus kalah dan gagal menjaganya lebih lama. Tuhan! Angkatlah penyakit ini. Aku masih harus menjaga Cantikku dari jauh.
*
Cantik, aku kesakitan. Kumohon, tenangkan sakitku. Peluk aku, Cantik. Kamu dimana? Kamu lupa aku masih di sini? Kamu lupa dengan janji cinta kita? Cantik. Aku semakin lemah.
*
Menjadi bayangan selamanya adalah tanda cintaku. Jika pun aku harus meninggal, dalam dunia baka pun ruh ku pasti akan selalu menjagamu. Cantik, aku mencintaimu.
*
Cantik, mungkin jasadku akan habis. Tapi jiwa dan ruh ku akan senantiasa bersemayam dalam dirimu. Saat kamu melihat bayanganmu, ingatlah bahwa itu aku. Aku yang tak akan pernah berlalu dari keberadaanmu. Kita pasti akan selalu bersama, seperti janji kita. Sekalipun kita takkan pernah menyatu. Aku akan selalu mencintaimu. Aku menjagamu dengan ikhlasku. Dengan cintaku.
*
...
Oleh: Putri (Nangbidok)
Medan, 160814

0 Dunia Bayang-Bayang

1 Agustus 2014
Hanya melodi yang keluar dari tuts-tuts piano itu. Serangkaian nada yang hingga saat ini masih membawaku kepada mimpi yang tertunda. Kenangan itu, mendadak menyapa.
Di tengah pekatnya malam aku berbisik pada awan, aku mencintainya. Sampaikan padanya bahwa aku belum mampu menyerah pada realita. Kebahagiaanku hanya sebatasmu, awan. Bersamanya, bahagiaku terlihat namun tak tergapai. Sepertimu, pekat malam tak menjauhkan kau dari langit itu. Kau tampak, namun tak nyata. Kau tak ada. Awan, bahagiaku selayaknya dirimu.
Mengapa ada jika tak terjamah? Mengapa indah jika akhirnya kau menghitam? Lalu? Kau menangis? Hujanmu bukti bahwa kau rindu pada bumi. Begitupun airmataku. Aku menyerah pada asalku. Cintaku indah, kemudian perlahan menghitam. Dan tangisan adalah akhirnya.
Di sini, aku masih bersama dengan melodi-melodi indah itu. Mereka masih mengalun, menghipnotisku. Merasuk hingga ke seluruh nadi. Aku kalah! Aku menangis, kemudian menyerah pada bumi, asalku.
Awan, sampaikan salamku padanya. Jangan minta dia untuk memaafkanku, aku tak layak. Biarlah aku menyapa indahnya melalui bayangan saja. Hanya bayangan. Biarlah aku memeluknya dengan cinta. Sekalipun hanya bayangannya saja. Bahagiaku memang seperti awan. Indah, tak terjamah. Ada namun tiada.
Hanya melodi dari tuts-tuts piano itu yang menjadi teman setia. Di sana, ada kita. Sekalipun aku menyerah pada bumi asalku. Aku tetap mencintainya melalui nada. Biarlah realita menelan segala yang asa, aku tetap untuknya.
Dalam dunia bayang-bayang, di sana aku akan bebas membahagiakannya. Sekalipun aku teringat pada bumi, asalku.
Dan kini relakan aku yang harus pergi. Sejenak meninggalkannya di sudut sepi. Sebentar saja, sebentar saja. Istirahatkan dia dalam lelahnya, awan. Nanti aku pasti kembali menyapa dia. Di sana, di dunia kami berdua. Hanya aku bersama dengannya, di dunia yang tak terjamah, dunia bayang-bayang.
Oleh: putri (nangbidok)
(Medan,020814)
*selalu ada rindu untuknya yang selalu setia menanti dalam dunianya, dunia bayang-bayang*

8 Cinta Butuh Cinta

18 Januari 2014
Pernah jatuh cinta ? Apa hebatnya jatuh cinta ? Aneh rasanya saat mendengar kata-kata romantis keluar dari orang yang katanya sedang jatuh cinta. Inilah, itulah. Selalu ada kata-kata manis yang berlebihan. Nyatanya apakah cinta itu semanis puisi cinta ? Apakah cinta dapat terasa manis semanis senyuman mereka yang jatuh ke dalamnya?

Mungkin saja cinta akan terasa manis, kalau ada cinta yang lain melengkapinya. Artinya cinta itu tak dapat berdiri sendiri. Jadi ketika cinta itu bersambut dengan cinta yang satunya, bahagia akan tercipta. Namun bagaimana sebaliknya ? Cinta yang tak bersambut. Cinta yang tak punya cinta. Faktanya, untuk bahagia cinta harus punya cinta. Huhuhuhu :'(

Cinta itu pahit! Cinta itu mematikan! (Itu kalau cinta tak punya cinta lain yang menyambutnya). Cinta ini hanya akan menjadi racun. Perlahan racun itu akan menggerogoti perasaan, logika, syaraf, bahkan jiwa! Cinta sungguh sangat berbahaya. Cinta adalah pembunuh saat cinta tak punya cinta. Menyedihkan.

Insan yang bercinta adalah penjudi. Mereka mempertaruhkan 50:50 hidupnya. Kebahagiaan dan maut secara bersamaan  mengancamnya. Cinta akan memuliakannya. Cinta juga akan menghempasnya hingga 'mampus'. Betapa berbahayanya cinta.

Aku tak paham mengapa cinta harus abu-abu ? Terkadang bahagia, terkadang sedih. Mengapa harus ada cinta jika cintanya tak disambut cinta yang lain ? Apa gunanya cinta tanpa cinta ? Mengapa harus ada cinta yang tanpa jawaban ? Seseungguhnya ini menyakitkan. Sungguh. Ini siksaan berat. Darimana aku tahu ?

Sebab aku adalah cinta yang tak disambut cinta. Apalah arti cintaku jika tanpa cinta ? Karena cinta memang butuh cinta. Setidaknya ini tak mengecewakan.