0 AKU INI APA? GURU?
Hai! Halo! Ini masih tentang kisahku di kampung orang. Hahaha. Jelek gitu yah bahasaku? Hemmm, gini deh, aku ini sebenarnya sedang menjalani matakuliah Program Praktek Lapangan (disingkat: PEPE'EL). Nah, pepe'el ini mengharuskanku untuk mengajar di sekolah yang berada di pedesaan. Ada banyak sekali pengalaman baru yang kudapa di sini. Apa yang kutuliskan sebenarnya sangat tidak layak untuk mewakilkan semua kisah yang sebenarnya. Terlalu menyenangkan! Dan aku, aksaraku terbatas. Jadi, semoga saja apa yang kualami, dapat samar-samar terlukis melalui bahasaku pada secarik kertas abstrak ini.
Ayo kita mulai. Siap? 1, 2, 3, begini ceritaku... auoooooooo!!!
Pertama, aku mau bercerita mengenai sekolah tempat aku mengajar. Aku ditempatkan di sebuah bangunan tua yang tampak semak karena dipeluk dengan pemandangan hutan. Ah, masih terlalu pelosok. SMP Negeri-3 namanya. Sekolah ini awalnya memberikan kesan seram dan menakutkan. Tapi saat aku berani menginjakkan kakiku di sana, bravo! Seperti ada aliran listrik bertegangan tinggi yang sedang menyengatku. Tidak, tidak! ini bukan makna sebenarnya. Maksudku, rasa yang tiba-tiba muncul dalam batinku itu adalah gejolak rasa tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat itu. Aku tersadar bahwa aku bukan lagi sosok yang biasa sekarang. Aku adalah seorang teladan, yang pasti akan digugu dan ditiru oleh siswa yang kudidik nantinya. Aku bahagia!!! Akhirnya, waktu yang kutunggu-tunggu datang juga. Ini saat pembuktian bahwa aku harus mampu memanusiakan manusia. Itulah mottoku sebagai seorang pendidik.
Di awal minggu, aku dan teman-temanku belum diperbolehkan untuk mengajar di dalam kelas. Masih ada beberapa proses yang harus dilalui untuk akhirnya bisa benar-benar mengajar. Beberapa hari pertama kulalui dengan pertemuan-pertemuan yang dipimpin oleh PKS-Kurikulum yang bertugas di seoklah ini. Beliau memberikan banyak sekali arahan dan masukan yang pasti berguna untukku dan teman-temanku. Beliau juga memberikan berbagai persyaratan yang harus kami patuhi sebagai tugas wajib untuk dikerjakan. Diantaranya adalah seputar pembuatan program tahunan, program semester, Kriteria Kelulusan Minimal untuk siswa, Kalender Pendidikan, dan Rencana Perangkat Pembelajaran. Semua itu cukup menguras waktu, tenaga dan pikiran. Tak apalah! Ini tantangan. Harus bisa, aku harus bisa!
Perjalanan aku dan teman-temanku di sini tidak dilalui sendiri. Kami diberikan seorang guru pamong yang nantinya akan bertugas membimbing kami. Dan betapa bersyukurnya aku kepada Tuhanku! Aku mendapat seorang pamong wanita yang lembut. Tidak hanya itu, aku disandingkan dengan rekan yang rajin juga. Bang Dedi namanya. Maklum, aku masih punya penyakit malas. Kadang-kadang masih suka kumat. Ha ha ha.
Baiklah, waktu yang diberikan adalah sebulan. Tapi, sesungguhnya di minggu ke dua pun kami sudah diberikan izin untuk masuk mengajar di kelas. Hanya syarat mutlaknya adalah RPP. Tidak terlalu sulitlah untuk itu.
Kukerjakan semua yang diminta (maklum, di awal memang masih rajin) ha ha ha. Di kepalaku sudah banyak rencana-rencana yang akan kulakukan di dalam kelas nanti. Pasti akan sangat menyenangkan, gumamku dalam hati. Aih, aku senyum-senyum sumringah. Takut juga kalau disangka orang gila karena senyum-senyum sendiri. Ah, tak apa! Aku memang sudah gila. Aku sudah tergila-gila dengan dunia pendidikan ini. Aku tergila-gila dengan dunia baruku. Selamat datang pengalaman baru! Selamat bertemu anak-anak didikku! Aku akan memanusiakan kalian :)
Tanpa kekerasan, tanpa ancaman. Kalian akan aman. Peluk anak-anakkuuuuuuuu...
Kecup basah. ah!
Ayo kita mulai. Siap? 1, 2, 3, begini ceritaku... auoooooooo!!!
Pertama, aku mau bercerita mengenai sekolah tempat aku mengajar. Aku ditempatkan di sebuah bangunan tua yang tampak semak karena dipeluk dengan pemandangan hutan. Ah, masih terlalu pelosok. SMP Negeri-3 namanya. Sekolah ini awalnya memberikan kesan seram dan menakutkan. Tapi saat aku berani menginjakkan kakiku di sana, bravo! Seperti ada aliran listrik bertegangan tinggi yang sedang menyengatku. Tidak, tidak! ini bukan makna sebenarnya. Maksudku, rasa yang tiba-tiba muncul dalam batinku itu adalah gejolak rasa tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat itu. Aku tersadar bahwa aku bukan lagi sosok yang biasa sekarang. Aku adalah seorang teladan, yang pasti akan digugu dan ditiru oleh siswa yang kudidik nantinya. Aku bahagia!!! Akhirnya, waktu yang kutunggu-tunggu datang juga. Ini saat pembuktian bahwa aku harus mampu memanusiakan manusia. Itulah mottoku sebagai seorang pendidik.
Di awal minggu, aku dan teman-temanku belum diperbolehkan untuk mengajar di dalam kelas. Masih ada beberapa proses yang harus dilalui untuk akhirnya bisa benar-benar mengajar. Beberapa hari pertama kulalui dengan pertemuan-pertemuan yang dipimpin oleh PKS-Kurikulum yang bertugas di seoklah ini. Beliau memberikan banyak sekali arahan dan masukan yang pasti berguna untukku dan teman-temanku. Beliau juga memberikan berbagai persyaratan yang harus kami patuhi sebagai tugas wajib untuk dikerjakan. Diantaranya adalah seputar pembuatan program tahunan, program semester, Kriteria Kelulusan Minimal untuk siswa, Kalender Pendidikan, dan Rencana Perangkat Pembelajaran. Semua itu cukup menguras waktu, tenaga dan pikiran. Tak apalah! Ini tantangan. Harus bisa, aku harus bisa!
Perjalanan aku dan teman-temanku di sini tidak dilalui sendiri. Kami diberikan seorang guru pamong yang nantinya akan bertugas membimbing kami. Dan betapa bersyukurnya aku kepada Tuhanku! Aku mendapat seorang pamong wanita yang lembut. Tidak hanya itu, aku disandingkan dengan rekan yang rajin juga. Bang Dedi namanya. Maklum, aku masih punya penyakit malas. Kadang-kadang masih suka kumat. Ha ha ha.
Baiklah, waktu yang diberikan adalah sebulan. Tapi, sesungguhnya di minggu ke dua pun kami sudah diberikan izin untuk masuk mengajar di kelas. Hanya syarat mutlaknya adalah RPP. Tidak terlalu sulitlah untuk itu.
Kukerjakan semua yang diminta (maklum, di awal memang masih rajin) ha ha ha. Di kepalaku sudah banyak rencana-rencana yang akan kulakukan di dalam kelas nanti. Pasti akan sangat menyenangkan, gumamku dalam hati. Aih, aku senyum-senyum sumringah. Takut juga kalau disangka orang gila karena senyum-senyum sendiri. Ah, tak apa! Aku memang sudah gila. Aku sudah tergila-gila dengan dunia pendidikan ini. Aku tergila-gila dengan dunia baruku. Selamat datang pengalaman baru! Selamat bertemu anak-anak didikku! Aku akan memanusiakan kalian :)
Tanpa kekerasan, tanpa ancaman. Kalian akan aman. Peluk anak-anakkuuuuuuuu...
Kecup basah. ah!
0 Kesan Pertama Itu, BOHONG!!! :)
Setibanya aku di sini, perasaan takut menggerayangi seluruh syarafku. Awalnya, berjuta pertanyaan bodoh satu per satu bermunculan tanpa alasan. Aku terlalu paranoid dengan cerita selanjutnya yang akan dituliskan takdir untukku selama aku di sini, di kampung orang.
Kampung ini namanya Desa Lalang, tepatnya di Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Tanaman sawit mengepung hingga menutupi rumah-rumah penduduk. Keadaan lingkungannya pun masih sangat tradisional. Ada banyak sawah dan pohon-pohon besar juga. Situasi ini benar sangat mengejutkanku. Terlalu senyap, jauh dari hiburan apapun. Jangan bayangkan 'mall', supermarket modern hanya ada satu, yaitu yang memiliki simbol A berwarna merah darah. Yah, kalian tahu lah.
Ayo, sekarang beranjak ke tempat tinggalku. Rumah yang kutempati bersama teman-teman sekampusku ini tidak jauh dari lokasi sekolah tempatku mengajar. Lokasinya ada di dalam sawit-sawit yang membentang, tapi ada jalan kecil tempat untuk menapaki langkah kakiku. Rumahnya nyaman. Sangat nyaman! Pemilik rumah adalah sepasang suami istri yang tampak begitu harmonis. Mereka adalah Pak Udin dan Bu Pipit. Dua orang ini sangat ramah dan menerima kami dengan sangat terbuka. Perlahan ketakutanku mulai luntur. Keresahanku yang sedari tadi betah menghantui, kini sudah digantikan dengan rasa aman. Tidak butuh waktu yang lama untuk beradaptasi dengan semua ini. Ah, senangya!
Perutku keroncongan, aku lapar. Ada makanan? Wah, jangan pusingkan urusan makan. Semua sudah tersedia. Lengkap 3 kali sehari, dengan menu yang berbeda tiap segmen waktunya. Huaaa...menyenangkan bukan?!
Nah, sudah bisa dibyangkan kan? Walaupun kondisi lingkungan di sini masih sangat sepi, aku merasa senang dan nyaman. Ternyata, ketakutanku semula tidak menghasilkan fakta apapun.
Rasa betahku ini tidak berhenti di sini saja. Alasan lain kenapa aku senang adalah tidak lain karena teman-teman baruku yang ramah. Meski aku dan mereka tidak saling mengenal sebelumnya, namun tidak sulit untuk menjalin keakraban antara satu dengan yang lainnya.
Sejujurnya, aku adalah satu-satunya mahasiswa Katolik yang ada di rombongan ini. Sisanya mereka semua beragama Islam. Tapi jangan khawatirkan aku, mereka semua adalah Muslim yang taat. Muslim yang juga terbuka dengan kemajemukan. Aku diterima dengan hangat. Menyengkan? Jelas!!! Sebentar saja aku sudah menyayangi mereka semua.
Aku memang dekat dengan semua temanku. Tapi, jelas ada beberapa orang yang memang benar-benar sudah seperti belahan jiwaku. Mereka yang selalu mengerti dan sepemikiran denganku. Tanpa niat berkelompok, aku memiliki hubungan yang jauh lebih erat dengan mereka. Aku akan menyebutkan nama mereka satu-satu di cerita selanjutnya. Ini hanya pengantar saja.
Inginku ialah menulis semua ceritaku di sini, namun rasa senangku yang meluap-luap menyulitkanku untuk ingat dengan blog ini. hehehe. Maklumlah, waktuku tersita oleh canda tawa dan serangkaian kisah lainnya bersama teman-temanku di sini. Ada banyak kegiatan dan kebiasaan baru yang kulakukan di sini, hingga membuatku sedikit lupa dengan duniaku sebelumnya.
Yah, intinya banyak sekali pengalaman baru yang keperoleh di sini. Aku merasa sangat beruntung dengan goresan takdir ini. Rasa syukurku melimpahi aku yang awalnya terlalu cemas. Hingga akhirnya rasa betahku kini malah membuatku takut untuk segera berlalu dari sini. Terlalu indah.
*Kecup Hangatku untuk kalian*
