0 Entah Apa Judulnya

6 Juni 2014

Entah apa judulnya, akupun tak pernah tahu. Sebab ini semua tak diketahui sejak kapan berawal dan kapan pula telah berakhir. Sebuah kesalahan yang paling manis. Dosa terindah yang menyeringai masuk ke dalam kehidupanku. Dia, yang sempat mengisi hari-hariku. Dia, yang pernah dan akan selalu menjadi yang paling memahami aku. Sekalipun raga lenyap dari pandangan, jiwaku tetap menyimpan indah cintanya. Selalu, abadi.

Ini adalah sebuah lirik lagu yang pernah diciptanya buatku sebelum ia pergi ke alam realita. Menyedihkan? Ya. Mengharukan? Ya. Membahagiakan? Ya, karena aku sempat mengenalnya dan menggenggam erat tangannya. Sayang, semoga kau tenang di alam sana. Alam realita penuh dengan puja dari mereka. Sehat-sehatlah selalu, aku memelukmu dari sini.

----------------------------
Awal senyum manismu menyambutku,
ada rasa yg tak biasa mghampiri diriku,
hingga kini kau mewarnai hidupku,
selamanya kutetap milikmu.

setiap langkah yg kita lalui brsama,
menuliskan cerita yg tak pernah terduga,
hanya kau & aku yg bisa melewati semua dgn sgenap cinta.

cinta yg t'lah persatukan kita, meleburkan sgenap asa yg tak pernah kita duga bersama,
tetaplah disisiku selamanya,
krn ku hanya ingin dirimu satu sampai Dia memanggilku kembali.
------------------------------

Terimakasih untuk sebuah lagu yang indah. Yang pernah teralun dari bibir mungilmu. Terimakasih.

2 Teriakan Seorang Bisu Rasa

11 April 2014
Dimensi kesekian mendadak menyapa dan mencumbuku tanpa jeda. Apa namanya dan bagaimana identitas kejelasan ruang ini pun tak kutemui maknanya. Sejenak kurebahkan arti di dalam sebuah senyum yang meggoda sukmaku. Senyum itu menggodaku untuk terus terperosok semakin dalam, dalam, dan dalam. Memaksaku untuk terus menikmati setiap desahan asa yang terdengar melalui pita suara yang redam dalam logika. Aku mencari jalan keluar, aku ingin pulang! Pulang? Pulang kemana? Dari mana aku ini sebenarnya berasal? Sebuah dunia tak terjamah, aku ini dari sana. Kekosongan sempat merajai jiwa ini. Ramai tak merasa ada. Sepi tak merasa hilang. Semu, hanya semu yang tampat nyata. Keberanianku mengenal sosok cinta yang berbeda, perlahan membawaku lari. Aku berlari kepada sebuah harapan yang penuh gairah cinta. Ini asa yang tidak biasa. Ini jiwa yang tak lagi sama. Dimensi ini adalah rumah baru tempatku berdiam. Nafasku penuh dengan cinta. Hatiku penuh dengan rasa. Otakku penuh dengan gairah. Semuanya ini akankah musnah? Entah! Aku tak pernah tau kapan ini dimulai. Dan aku pun tak pernah ingin tau kapan ini akan segera berakhir. Yang aku tau hanyalah hari ini Hanya saat ini. Aku bersamamu, menyatu. Sebuah tatap penuh harap adalah sumber tenaga untuk kembali berjalan menapaki dunia yang penuh dusta. Sesungging senyum menggoda itu selalu menjadi oksigen di tengah kesesakan dusta yang penuh paksa. Aku tak ingin lari. Tak lagi ingin pergi. Tak sejejakpun ingin kuasingkan dari zona ini. Hanya kau dan aku, menyatu. Sayang, jikalau kaupun harus pergi nanti, aku takkan ingin mencari lagi. Tak akan menjajaki hati-hati yang lain. Ini tempat peristirahatanku yang terakhir. Kuburku ada dalam jiwamu itu. Surgaku ada dalam kebersamaan kita. Neraka ini kita yang punya. Siapa yang sanggup masuki? Tak akan ada. Mereka pasti mati. Detik ini aku seperti kembali. Apakah kita ini merupakan produk reinkarnasi? Siapa kau, sayangku? Siapa kita? Aku merasa seperti hidup kembali dan mengulang sebuah kisah yang sama. Entah dimana, entah di lapisan dunia yang mana. Aku merasa kita ini tak jauh berbeda. Kau memang aku dan aku memang kau. Siapa empunya kita? Siapa penulis skenario jalan cerita kita. Sayang, yang kutahu hanya kau saat ini. Yang kuharap hanya denganmu hingga nanti. Yang berharga bagiku hanya harapmu dan jiwamu merengkuh setiap sendi-sendiku yang semakin lemah. Sayang, aku ingin tetap tenang. Tanpa harus menjadi bayang-bayang dunia yang tampak seolah tenang. Kita ini tak lebih dari sepasang wayang yang dimainkan oleh seorang dalang. Entah sampai kapan, takkan terbayang. Janji ku bersamamu, janjiku di relung jiwamu. Kita bersembahyang berasama di atas sajadah nya cinta. Bernafas dengan dupa asa. Aku percaya, setianya kita, adalah setianya Tuhan. Hingga sampai pada kesudahan, aku dan kau akan menjadi sebuah kitab sucinya para pemuja cinta yang bisu akan rasa.

5 Bersetubuh dengan Dia, Siluet Luka

23 Februari 2014
------Teruntukmu yang sempat singgah-------

Di seberang jalan aku melihat sebuah siluet luka yang kabur terhalang kabut senja. Aku diam, tunduk, lalu meringkuk. Bukan aku takut, aku hanya masih merasa asing dengan bentukmu yang buram. Aku diam dan pura-pura tak melihat. Kucari arti, tak jua kutemui. Siluet luka di seberang jalan kini tampak semakin dekat. Ternyata kau adalah sebuah pribadi. Manusia! Oh, siluet luka itu kini berubah menjadi sesosok anak manusia yang tampak sangat indah. Ini mahakarya Tuhan! Benarkah kau itu siluet luka yang kulihat di seberang jalan tadi? Indahnya. Kupandangi setiap inci dari sisimu. Ini aneh, tak ada tanda-tanda duka. Namun mengapa engkau tampak sebagai siluet luka? Kau diam di ujung seberang jalan sana. Hei, sadarkah bahwa kau adalah indah? Sadarkah kau bahwa ada harta yang tersimpan dalam jiwamu yang hampa? Oh, hampa? Entahlah. Aku baru saja melihatmu beberapa menit yang lalu. Namun bathinku serasa ikut tercabik saat melihat bayanganmu yang membentuk sebuah siluet dipenuhi luka, buram terhalang kabut senja. Aku melihatnya, luka. Begitu banyak luka yang tertimbun dalam jiwamu yang hampa. Sebentar saja aku memandangimu. Seketika itu aku merasa, aku cinta. Ah! Cinta lagi, cinta lagi. Bosan! Ini bukan cinta yang biasa. Bukan cinta yang harfiah. Ini cinta antar dimensi yang tak lazim keberadaannya. Sangat tidak lazim. Lantas, bagaimana selanjutnya? Kau tersenyum. Senyumanmu mengaburkan pandanganku. Mata duniawiku buta. Intuisiku menggerayangi, aku pasrah. Ilusi pun tercipta. Mata bathin seolah berkata, kau adalah aku. Aku adalah kau, benar begitu? Mungkin saja. Tapi yang kutahu, aku hilang kendali. Nalar ini tertikam oleh rasa yang aku tak tahu ini apa. Hanya pasrah. Nalar kita saling merangsang. Ide-ide kita bersetubuh dalam satu kesatuan harmoni yang indah. Membuahi alam pikir kita, dan aku melahirkan karya kemudian. Sayang, entah harus kusebut apa kau beserta dengan lukamu itu. Entah harus bagaimana aku harus memaknai persetubuhan ini. Bathin kita menyatu namun raga ini bagaikan minyak dan air yang takkan pernah menjadi larutan utuh. Kita berbeda, kita harus terpisah. Sebentar saja kunikmati persetubuhan ini. Selamanya mungkin takkan pernah aku melupakan kau beserta dengan lukamu. Kau adalah mahakarya indah. Jangan lagi kau pernah menjadi sebuah siluet luka. Aku cin... hentikan sajalah. Kita tak sama.

22 Februari 2014 -pupu-